Sabtu, 21 Maret 2026

NYAWIJI TOSAN AJI SURAKARTA

 NYAWIJI TOSAN AJI SURAKARTA

“Spirit Mahatma Gandhi Dalam Gelaran Nyawiji Tosan Aji Surakarta?”

Ada perenungan yang cukup mendalam, ketika saya membaca poster publikasi gelaran Nyawiji Tosan Aji Surakarta, yang akan dilaksanakan pada tanggal 10 – 12 Juli 2026, di Balaikota Surakarta. Dalam poster tersebut, tertulis tema utamanya adalah: Manunggaling Satyagraha Tosan Aji. Saya mencoba merenunginya, karena istilah Satyagraha mengingatkan saya kepada sosok Mohandas Karamchand Gandhi. Atau yang lebih terkenal dengan nama Mahatma Gandhi. Sosok pemimpin spiritual dan politik, yang sangat berperan membantu dalam proses perjuangan Kemerdekaan India dari penjajahan Inggris.

Satyagraha adalah sebuah konsep perjuangan hidup yang dirintis oleh Mahatma Gandhi mulai tahun 1907 di Afrika Selatan. Kemudian berkembang pesat di India mulai tahun 1911 – 1935. Hingga menjadi alat utama dalam perjuangan Kemerdekaan India, yang paling dikenal adalah Pawai Garam Dandi yang dimulai pada 12 Maret 1930. Bagi Mahatma Gandhi, Satyagraha adalah sebagai bentuk perlawanan tanpa kekerasan terhadap segala bentuk kejahatan, penindasan dan ketidak adilan. Satyagraha berasal dari dua suku kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu: Satya (Kebenaran) dan Agraha (Ketekunan/ Keteguhan). Bisa dimaknai sebagai keteguhan hidup dalam berpegang pada kebenaran, yang mengutamakan kedamaian, kasih sayang dan saling menghormati. Termasuk paling utama menjauhi segala bentuk kekerasan dan penindasan.

Apakah tema Manunggaling Satyagraha Tosan Aji dalam gelaran Nyawiji Tosan Aji Surakarta terinspirasi dari Gerakan Satyagraha yang dicetuskan oleh Mahatma Gandhi? Ataukah mungkin punya pemaknaan yang berbeda? Apapun latar belakangnya, kita semuanya sangat patut untuk memberikan apresiasi atas keberanian mengangkat tema Manunggaling Satyaghara Tosan Aji. Yang bisa kita baca sebagai semangat bersatunya keteguhan hidup dalam berpegang pada kebenaran, yang mengutamakan kedamaian, kasih sayang dan saling menghormati. Siapapun yang memahami dan menjalankan prinsip Ajaran Satyagraha, disebut sebagai Murid Satyagrahi. Yang segala perilaku dan sikap hidupnya, wajib berpegang teguh pada kebenaran, kasih sayang dan saling menghormati. Serta menjauhi segala bentuk kekerasan, kejahatan dan penindasan. 

Dengan demikian, kita semuanya bisa berharap bahwa melalui momentum gelaran Nyawiji Tosan Aji Surakarta, yang mengusung tema utama Manunggaling Satyagraha Tosan Aji, kita bisa mempersatukan segala perbedaan yang ada untuk bersama-sama menjujung tinggi Ajaran Manunggaling Satyagraha dari seluruh insan pelestari budaya Tosan Aji Nusantara. Dan ketika Ajaran Manunggaling Satyagraha diangkat pada masa kekinian, maka akan menemukan relevansinya dengan semangat perlawanan Mahatma Gandhi. Yaitu semangat perlawanan tanpa kekerasan. Semangat untuk melawan segala bentuk kekerasan, penindasan dan ketidak adilan. Dengan mengarus utamakan prinsip-prinsip kebenaran, kasih sayang/ welas asih dan saling menghormati. Termasuk melawan segala bentuk kesewenang-wenangan, pelanggaran hukum dan penyalahgunaan jabatan.

Jiwa Perlawanan dalam Ajaran Satyagraha bukanlah untuk menghancurkan musuh untuk mengalahkannya. Namun menggunakan keteguhan hati, perilaku bermoral, pikiran rasional, untuk menggugah hati dan pikiran para penindas/ penjajah, terutama dengan menggunakan aksi moral, kasih sayang dan kesabaran bathiniah. Melawan tanpa kekerasan. Melainkan mengubah dengan kelembutan hati, sikap, perilaku hingga tutur kata yang lemah lembut. Seperti aliran air yang merubah kekerasan bentuk batu. Maka menjadi semakin jelas, bahwa Ajaran Manunggaling Satyagraha Tosan Aji bisa menjadi jalan keluar untuk melakukan perlawanan terhadap segala bentuk kejahatan, kekerasan, penindasan dan ketidak adilan. Dengan menggunakan prinsip-prinsip keteguhan hati, perilaku bermoral, pikiran rasional hingga rasa kasih sayang dan saling menghormati. Bukan untuk menghancurkan musuh atau siapapun, tetapi justru mengubahnya melalui kesadaran jiwa dan bathin yang mencerahkan. Tanpa kekerasan. Tanpa permusuhan.

Ajaran Manunggaling Satyagraha sudah pasti bukanlah jalan hidup yang mudah dan nyaman. Justru sangat membutuhkan kesabaran, pengorbanan, keihklasan dan daya juang hidup yang tinggi. Ajaran Manunggaling Satyagraha bukanlah sikap hidup berpasrah diri secara pasif. Justru menjadi sikap hidup yang sangat jelas dan aktif dalam melawan segala bentuk kekerasan, penidasan, kejahatan dan ketidak adilan. Bukan berdiam diri menunggu perubahan terjadi. Justru harus selalu aktif bergerak dan berjuang membangun perubahan menjadi lebih baik bagi semuanya. 

Jika seluruh Insan Pelestari budaya Tosan Aji Nusantara bisa memahami dan menjalani Ajaran Manunggaling Satyagraha di Indonesia, maka Bangsa Indonesia mampu menjadi mercusuar dunia bukanlah hanya menjadi jargon semata-mata. Seperti bukti sejarah pada kisah hidup Mahatma Gandhi yang telah berhasil menyebarkan Ajaran Manunggaling Satyagraha kepada seluruh rakyat India. Bukan hanya berhasil meraih Kemerdekaan India, tetapi juga mampu menjadi inspirasi dan cahaya penerang bagi dunia. Banyak tokoh-tokoh dunia yang mengaku terinspirasi dari Mahatma Gandhi dengan Ajaran Manunggaling Satyagraha. Mulai dari Martin Luther King, Jr., Nelson Mandela, Rabindranath Tagore, Dalai Lama, Winston Churcill, Albert Einstein dan masih banyak yang lainnya. Yang telah menuliskan nama Mahatma Gandhi pada beberapa karya-karya tulisnya untuk mengapresiasi Mahatma Gandhi dan Ajaran Manunggaling Satyagrahannya.

Satu nasehat paling dikenang dari Mahatma Gandhi, “Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum bahagia.”

Sampai jumpa pada gelaran Nyawiji Tosan Aji Surakarta, yang akan dilaksanakan pada tanggal 10 – 12 Juli 2026, di Balaikota Surakarta. Manunggaling Satyagraha Tosan Aji. Mari hadir, berpartisipasi, bersatu padu, dan menggeloralah!

Wahyu Eko Setiawan, SP.

CEO TosanAji.id