Senin, 08 Juni 2026

Fifiologi KERIS PUTHUT part. 1

KERIS PUTHUT SAJÈN SEBAGAI PURWARUPA AWAL PERKERISAN NUSANTARA

Dalam kajian sejarah seni, perkembangan suatu kebudayaan umumnya melalui tahapan yang panjang. Secara sederhana, ranah seni dapat dibagi ke dalam dua fase besar, yaitu Seni Primitif dan Seni Klasik.

Seni primitif bukan berarti seni yang rendah atau belum berbudaya, melainkan fase awal ketika sebuah gagasan, teknologi, simbol, dan bentuk artistik masih berada dalam tahap dasar. Dari fase inilah kemudian berkembang bentuk-bentuk yang semakin kompleks, matang, dan terstandarisasi, mengacu pada aturan yang ditetapkan oleh kerajaan yang disebut sebagai Seni Klasik.

Secara logika, tidak ada karya cipta manusia yang langsung hadir dalam bentuk sempurna seperti yang dikenal sekarang. Sepeda, mobil, kapal, maupun pesawat terbang selalu diawali oleh bentuk-bentuk percobaan yang lebih sederhana. Purwarupa atau prototipe tersebut sering kali hanya memuat prinsip-prinsip dasar yang kemudian disempurnakan melalui proses panjang perkembangan teknologi dan pengetahuan.

Prinsip yang sama dapat diterapkan pada perkembangan keris Nusantara. Keris-keris klasik yang dikenal pada masa kerajaan-kerajaan besar menunjukkan tingkat penguasaan teknologi tempa, estetika, simbolisme, dan standarisasi yang sangat tinggi. Oleh karena itu, secara logis bentuk yang demikian matang pasti didahului oleh fase-fase perkembangan yang lebih sederhana yang menjadi landasan bagi kemunculan bentuk-bentuk klasik tersebut.

Dalam konteks ini, Keris Puthut Sajèn dapat dipahami sebagai salah satu representasi fase awal atau purwarupa perkerisan Nusantara. Beberapa argumentasi yang mendukung pandangan tersebut adalah sebagai berikut :

 1. Kesederhanaan Bentuk Garap

Keris Puthut Sajèn memperlihatkan bentuk yang relatif sederhana apabila dibandingkan dengan keris-keris klasik. Kesederhanaan bentuk merupakan ciri umum karya seni pada fase awal perkembangan budaya. Pada tahap ini, yang lebih diutamakan adalah gagasan dasar dan fungsi simboliknya, sementara unsur-unsur estetika yang rumit belum berkembang secara penuh.

 2. Dominasi Nilai Simbolik

Pada masa-masa awal peradaban manusia, fungsi simbolik dan spiritual umumnya lebih menonjol daripada aspek dekoratif. Keris Puthut Sajèn memperlihatkan penekanan kuat pada makna kemanunggalan manusia, alam semesta, dan Tuhan sebagaimana tercermin dalam konsep Sa–Aji–An. Dalam fase ini, keris belum semata-mata dipahami sebagai benda seni atau senjata, tetapi sebagai media simbolik yang menghubungkan manusia dengan sumber pengetahuan dan kehidupan.

 3. Teknologi Tempa yang Masih Dasar

Kehadiran keris tanpa Slorok maupun Pamor yang rumit, atau hanya menampilkan jejak-jejak perlengketan material yang kemudian dikenal sebagai pamor sanak, dapat dipahami sebagai fase awal perkembangan teknologi perkerisan. Dari tahap yang sederhana inilah kemudian berkembang berbagai teknik lipatan, penyatuan logam, hingga penciptaan pamor-pamor yang semakin kompleks pada era klasik.

 4. Kedekatan dengan Karakter Artefak Awal Peradaban

Artefak-artefak dari masa awal peradaban manusia umumnya menunjukkan karakter sederhana, fungsional, dan sarat simbolisme. Keris Puthut Sajèn memperlihatkan ciri-ciri yang sejalan dengan karakter tersebut. Bentuknya lebih menampilkan esensi gagasan dibandingkan pencarian keindahan yang bersifat dekoratif. Oleh karena itu, secara tipologis ia lebih dekat dengan tradisi seni awal daripada seni klasik yang telah berkembang matang.

5. Kesinambungan Bentuk

Sebuah purwarupa tidak harus identik dengan bentuk akhirnya. Yang terpenting adalah adanya kesinambungan gagasan, prinsip bentuk, dan teknologi dasar yang terus berkembang dari masa ke masa.

Salah satu petunjuk kesinambungan tersebut dapat dilihat pada konstruksi keris. Pada fase awal, bentuk keris diduga masih bersifat iras, yaitu berbagai unsur pembentuknya menyatu sebagai satu kesatuan. Dalam perkembangan berikutnya, unsur-unsur tersebut mengalami diferensiasi dan pemisahan sehingga lahirlah Ricikan-Ricikan yang lebih kompleks sebagaimana dikenal pada keris klasik.

Meskipun demikian, proses perkembangan tersebut tidak menghilangkan identitas dasarnya. Karakter utama keris Nusantara tetap dipertahankan, seperti condhonglèlèh (kemiringan bilah yang memberi kesan merunduk atau menunduk), bentuk yang asimetris, serta kecenderungan bentuk organik yang berbeda dengan senjata-senjata simetris dari kebudayaan lain. Dengan kata lain, yang berkembang adalah tingkat kerumitan konstruksi dan penggarapan, sedangkan prinsip bentuk dasarnya tetap berkesinambungan.

Fenomena ini lazim ditemukan dalam sejarah perkembangan seni dan teknologi. Bentuk awal yang sederhana tidak hilang, melainkan menjadi fondasi yang terus diwariskan dan disempurnakan dalam bentuk-bentuk berikutnya. Sebagaimana purwarupa pesawat terbang tidak sama dengan pesawat modern tetapi tetap memperlihatkan prinsip-prinsip dasarnya, demikian pula Keris Puthut Sajèn dapat dipahami sebagai bentuk awal yang menjadi landasan lahirnya tradisi perkerisan klasik Nusantara.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, Keris Puthut Sajèn layak dipandang sebagai representasi fase seni primitif perkerisan Nusantara, yaitu sebuah purwarupa yang memuat gagasan dasar, prinsip bentuk, simbolisme, dan teknologi awal yang kemudian berkembang menjadi berbagai bentuk keris klasik yang dikenal hingga sekarang. Keris klasik bukanlah kemunculan yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil dari proses evolusi budaya yang panjang, dan jejak-jejak awal proses tersebut masih dapat dibaca pada Keris Puthut Sajèn.

Tulisan ini menempatkan Keris Puthut Sajèn bukan sebagai "keris yang belum sempurna", melainkan sebagai bentuk awal yang mengandung prinsip-prinsip dasar perkerisan Nusantara yang kemudian berkembang menjadi tradisi keris klasik.


Rahayu....rahayu....rahayu...


R. Adi Sulistyo 

Krt. Cahya Setyonagoro


Sabtu, 21 Maret 2026

NYAWIJI TOSAN AJI SURAKARTA

 NYAWIJI TOSAN AJI SURAKARTA

“Spirit Mahatma Gandhi Dalam Gelaran Nyawiji Tosan Aji Surakarta?”

Ada perenungan yang cukup mendalam, ketika saya membaca poster publikasi gelaran Nyawiji Tosan Aji Surakarta, yang akan dilaksanakan pada tanggal 10 – 12 Juli 2026, di Balaikota Surakarta. Dalam poster tersebut, tertulis tema utamanya adalah: Manunggaling Satyagraha Tosan Aji. Saya mencoba merenunginya, karena istilah Satyagraha mengingatkan saya kepada sosok Mohandas Karamchand Gandhi. Atau yang lebih terkenal dengan nama Mahatma Gandhi. Sosok pemimpin spiritual dan politik, yang sangat berperan membantu dalam proses perjuangan Kemerdekaan India dari penjajahan Inggris.

Satyagraha adalah sebuah konsep perjuangan hidup yang dirintis oleh Mahatma Gandhi mulai tahun 1907 di Afrika Selatan. Kemudian berkembang pesat di India mulai tahun 1911 – 1935. Hingga menjadi alat utama dalam perjuangan Kemerdekaan India, yang paling dikenal adalah Pawai Garam Dandi yang dimulai pada 12 Maret 1930. Bagi Mahatma Gandhi, Satyagraha adalah sebagai bentuk perlawanan tanpa kekerasan terhadap segala bentuk kejahatan, penindasan dan ketidak adilan. Satyagraha berasal dari dua suku kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu: Satya (Kebenaran) dan Agraha (Ketekunan/ Keteguhan). Bisa dimaknai sebagai keteguhan hidup dalam berpegang pada kebenaran, yang mengutamakan kedamaian, kasih sayang dan saling menghormati. Termasuk paling utama menjauhi segala bentuk kekerasan dan penindasan.

Apakah tema Manunggaling Satyagraha Tosan Aji dalam gelaran Nyawiji Tosan Aji Surakarta terinspirasi dari Gerakan Satyagraha yang dicetuskan oleh Mahatma Gandhi? Ataukah mungkin punya pemaknaan yang berbeda? Apapun latar belakangnya, kita semuanya sangat patut untuk memberikan apresiasi atas keberanian mengangkat tema Manunggaling Satyaghara Tosan Aji. Yang bisa kita baca sebagai semangat bersatunya keteguhan hidup dalam berpegang pada kebenaran, yang mengutamakan kedamaian, kasih sayang dan saling menghormati. Siapapun yang memahami dan menjalankan prinsip Ajaran Satyagraha, disebut sebagai Murid Satyagrahi. Yang segala perilaku dan sikap hidupnya, wajib berpegang teguh pada kebenaran, kasih sayang dan saling menghormati. Serta menjauhi segala bentuk kekerasan, kejahatan dan penindasan. 

Dengan demikian, kita semuanya bisa berharap bahwa melalui momentum gelaran Nyawiji Tosan Aji Surakarta, yang mengusung tema utama Manunggaling Satyagraha Tosan Aji, kita bisa mempersatukan segala perbedaan yang ada untuk bersama-sama menjujung tinggi Ajaran Manunggaling Satyagraha dari seluruh insan pelestari budaya Tosan Aji Nusantara. Dan ketika Ajaran Manunggaling Satyagraha diangkat pada masa kekinian, maka akan menemukan relevansinya dengan semangat perlawanan Mahatma Gandhi. Yaitu semangat perlawanan tanpa kekerasan. Semangat untuk melawan segala bentuk kekerasan, penindasan dan ketidak adilan. Dengan mengarus utamakan prinsip-prinsip kebenaran, kasih sayang/ welas asih dan saling menghormati. Termasuk melawan segala bentuk kesewenang-wenangan, pelanggaran hukum dan penyalahgunaan jabatan.

Jiwa Perlawanan dalam Ajaran Satyagraha bukanlah untuk menghancurkan musuh untuk mengalahkannya. Namun menggunakan keteguhan hati, perilaku bermoral, pikiran rasional, untuk menggugah hati dan pikiran para penindas/ penjajah, terutama dengan menggunakan aksi moral, kasih sayang dan kesabaran bathiniah. Melawan tanpa kekerasan. Melainkan mengubah dengan kelembutan hati, sikap, perilaku hingga tutur kata yang lemah lembut. Seperti aliran air yang merubah kekerasan bentuk batu. Maka menjadi semakin jelas, bahwa Ajaran Manunggaling Satyagraha Tosan Aji bisa menjadi jalan keluar untuk melakukan perlawanan terhadap segala bentuk kejahatan, kekerasan, penindasan dan ketidak adilan. Dengan menggunakan prinsip-prinsip keteguhan hati, perilaku bermoral, pikiran rasional hingga rasa kasih sayang dan saling menghormati. Bukan untuk menghancurkan musuh atau siapapun, tetapi justru mengubahnya melalui kesadaran jiwa dan bathin yang mencerahkan. Tanpa kekerasan. Tanpa permusuhan.

Ajaran Manunggaling Satyagraha sudah pasti bukanlah jalan hidup yang mudah dan nyaman. Justru sangat membutuhkan kesabaran, pengorbanan, keihklasan dan daya juang hidup yang tinggi. Ajaran Manunggaling Satyagraha bukanlah sikap hidup berpasrah diri secara pasif. Justru menjadi sikap hidup yang sangat jelas dan aktif dalam melawan segala bentuk kekerasan, penidasan, kejahatan dan ketidak adilan. Bukan berdiam diri menunggu perubahan terjadi. Justru harus selalu aktif bergerak dan berjuang membangun perubahan menjadi lebih baik bagi semuanya. 

Jika seluruh Insan Pelestari budaya Tosan Aji Nusantara bisa memahami dan menjalani Ajaran Manunggaling Satyagraha di Indonesia, maka Bangsa Indonesia mampu menjadi mercusuar dunia bukanlah hanya menjadi jargon semata-mata. Seperti bukti sejarah pada kisah hidup Mahatma Gandhi yang telah berhasil menyebarkan Ajaran Manunggaling Satyagraha kepada seluruh rakyat India. Bukan hanya berhasil meraih Kemerdekaan India, tetapi juga mampu menjadi inspirasi dan cahaya penerang bagi dunia. Banyak tokoh-tokoh dunia yang mengaku terinspirasi dari Mahatma Gandhi dengan Ajaran Manunggaling Satyagraha. Mulai dari Martin Luther King, Jr., Nelson Mandela, Rabindranath Tagore, Dalai Lama, Winston Churcill, Albert Einstein dan masih banyak yang lainnya. Yang telah menuliskan nama Mahatma Gandhi pada beberapa karya-karya tulisnya untuk mengapresiasi Mahatma Gandhi dan Ajaran Manunggaling Satyagrahannya.

Satu nasehat paling dikenang dari Mahatma Gandhi, “Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum bahagia.”

Sampai jumpa pada gelaran Nyawiji Tosan Aji Surakarta, yang akan dilaksanakan pada tanggal 10 – 12 Juli 2026, di Balaikota Surakarta. Manunggaling Satyagraha Tosan Aji. Mari hadir, berpartisipasi, bersatu padu, dan menggeloralah!

Wahyu Eko Setiawan, SP.

CEO TosanAji.id



Selasa, 05 Agustus 2025

Wedhung Episode 3

 Wedung #3

KRT. Cahya Setyanagara 

PASIKON W E D U N G

Wedung atau dalam bahasa di kraton Solo biasa disebut Pasikon, adalah senjata tradisional Jawa yang dulu merupakan kelengkapan pejabat keraton tertentu. Tidak seperti keris. Wedung bisa dikenakan oleh pria maupun wanita. Bahkan kelengkapan busana seorang bupati putri yang berjarit serta kembem, akan lebih jangkep kiranya jika di sabuk depan sang bupati diselipi wedung.

Sarung wedung umumnya kayu trembalu. Atau cendana wangi, dengan asesoris cincin logam, bisa perak, bisa emas  bahkan bisa kulit penyu. Cincin warangka umumnya empat baris.

Wedung dikenakan di samping depan, ada semacam asesoris penyisip ke sabuk atau stagen. Terbuat dari tanduk, bisa tanduk kebo bule. Atau kulit penyu. Bentuk jepitan penyisip khas untuk wedung. Dengan pangkal penjepit, ada yang bentuk sirah bulus, ada yang kepala ular. 


Disandang di selipan kemben seorang Bupati perempuan
(Dokumentasi Mustika Ratu)

Apa beda wedhung Surakarta dan Yogyakarta ?

Diantara banyak jenis dan istilah setidaknya ada 3 perbedaan yang mudah dikenali yaitu; 

1. Postur, wedhung Surakarta cenderung lebih ramping aerodinamis, taktikal dan rapih dengan badan gesit, terkesan bias untuk mengiris dan menusuk dengan mudah. Wedhung Yogyakarta lebih terkesan bongsor atau besar seolah olah memang gunanya untuk memotong(sejenis golok atau golok daging), wedhung Yogyakarta sendiri meneruskan gaya klasik wedhung dari jaman Demak, atau sebelumnya sampai era Mataram sekarang, oleh karena itu wedhung Yogyakarta sering disebut wedhung Mataraman dan tidak jauh beda atau bahkan persis dengan wedhung dari jaman Mataram, Demak dst. Beda cerita dengan wedhung temuan dll. Wedhung Surakarta sendiri walau terkesan lebih baru atau agak kebaratan juga masih menggunakan gaya lama seperti halnya kerisnya masih menggunakan beberapa ciri keris yang sering disebut"kabudhan" yaitu kruwingan yang jelas dan rapih.

2. Takikan diatas leher, wedhung Surakarta biasanya menggunakan takikan diatas leher. Sedangkan wedhung Yogakarta atau Mataraman biasanya langsung leher ke bilah. Walau tentu di beberapa kasus khusus juga menggunakan takikan.

3. Ricikan ukiran dibagian bawah wedhung, wedung Surakarta biasanya hanya berupa lekukan kecil dengan garis - garis, wedhung Yogyakarta biasanya lugas, jelas dan besar.





Rabu, 07 Mei 2025

Ekspedisi Tosan Aji Nusantara

Ekspedisi Tosan Aji Nusantara

Prasasti Sangguran


Membahas Jalur Perdagangan Besi Nusantara dan Ekspedisi Tosan Aji Nusantara. membahas Prasasti Sangguran. Yang ternyata adalah salah satu Prasasti tertua yang sangat jelas menyebutkan PANDAI/ PANDE BESI sebagai sosok yang dihormati selayaknya Bhatara. 

Prasasti Sangguran merupakan prasasti pada batu berangka tahun 850 Syaka (928 Masehi) yang ditemukan di daerah Batu, Malang, dan menyebut nama penguasa daerah pada masa itu, Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga (Dyah Wawa). Jadi, sangat jelas bahwa Prasasti Sangguran membuktikan sejarah yang lebih tua sebelum Kerajaan Singhasari, yang khusus memuliakan Sang Pande Besi (Pande Tosan Aji, Tembaga dan Emas) pada era saat itu. 

Jumat, 11 April 2025

Motif Relief Hewan dalam Kehidupan Jawa

 Relief hewan dan sebutan hewan bahasa  Jawa Kuno

Dalam beberapa sumber teks Jawa Kuno (Prasasti & Naskah: Kakawi, Tantri Kamandaka, Nagarakrtagama, dan lain-lain) Abad 9-14 Masehi. 

1. Badak bercula satu kecil : Warak, Ganda, Gandaka 

2. Gajah Jawa (elephas maximus sondaicus/borneensis) : Liman, Gajah, Gaja 

3. Sapi Liar Jawa : Banteng, Bantyang, Gawaya 

4. Trenggiling Sunda : Tinggiling 

5. Harimau Jawa : Mong, Wyaghra, Harimong, Macan, Śārdūla, Mrganātha 

6. Macan Tutul Jawa : Macan Tutul 

7. Macan Tutul Jawa Hitam : Macan Wulung 

8. Kucing Macan Sunda : Kuwuk, Macan Rĕngrĕng 

9. Merak Hijau Jawa : Mrak, Mĕrak, Mayura 

10. Elang Elang Jawa : Helang, Alap-alap 11. Rangkong Badak (Jawa) : Langling. NewJ & ModJ: Manuk Gogik 

12. Ayam Cemani : Hayam Hirĕng 

13. Kancil Jawa : Kancil 

14. Rusa Timor : Mañjangan, Rusa, Mrĕga, Kĕnas 

15. Munjac : Kidang 

16. Landak Sunda : Laņḍak, Salya 

17. Ajag (Anjing Liar Jawa) : Asu Hasang/Asang, Tarakṣa (Skt Taraksu : Hyena, Serigala) 

18. Gagarangan : Mangga Jawa 

19. Luwak : Musang Palem Asia 

20. Lutung : Lutung Ebony Jawa Barat & Lutung Jawa Timur 

Referensi: 
PJ Zoetmulder. 1982. Kamus Bahasa Jawa-Inggris Kuno. 
Gravenhage: Martinus Nijhoff. Suwito Santoso. 1980. Rāmāyana Indonesia (Vol.3). New Delhi: Sarada Rani. Theodore G.Th. Pigeaud. 1960. Jawa Abad ke-14: Kajian Sejarah Kebudayaan, Negara Krtagama karya Rakawi Prapanca dari Majapahit, 1465 M. Jilid III. Leyden: Den Haag Martinus Nijhoff.


Deskripsi mengenai relief hewan dan sebutan hewan dalam bahasa Jawa Kuno pada periode abad ke-9 hingga ke-14 Masehi mengungkapkan kekayaan interaksi masyarakat Jawa Kuno dengan alam serta bagaimana pemahaman dan representasi dunia fauna terintegrasi dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Berdasarkan sumber-sumber teks Jawa Kuno seperti prasasti dan naskah-naskah Kakawi, Tantri Kamandaka, Nagarakrtagama, serta artefak-artefak ornamen, relief hewan menjadi motif yang umum diaplikasikan pada beragam media. Kita dapat menemukan representasi simha (singa), gajah (gajah), kuda (kuda), bantèng (banteng), warak (badak), sarpa (ular), berbagai jenis manuk (burung), iwak (ikan), dan hewan-hewan air lainnya menghiasi dinding rumah, pendok keris, gandik keris, hulu senjata tradisional, motif ukiran kayu dan batu, bahkan kemungkinan juga pada pola batik dan media seni lainnya. Menariknya, penggambaran hewan-hewan ini tidak selalu bersifat naturalistik, melainkan seringkali mengalami deformasi, yaitu perubahan bentuk dari aslinya, baik melalui stilasi (penyederhanaan dan penggayaan) maupun distorsi (pembengkokan atau perubahan proporsi) untuk tujuan estetika atau simbolis. 
Selain itu, motif hewan juga kerap disamarkan atau diintegrasikan ke dalam desain motif dasar melalui jalinan lung-lungan (sulur tumbuhan), menciptakan harmoni visual antara dunia fauna dan flora, yang mencerminkan pandangan kosmologis masyarakat Jawa Kuno yang melihat keterkaitan erat antara berbagai elemen alam. Keberadaan relief hewan dan penyebutan nama-nama hewan dalam bahasa Jawa Kuno pada periode ini tidak hanya memberikan informasi tentang fauna yang dikenal, tetapi juga mengindikasikan nilai-nilai simbolis, kepercayaan, dan ekspresi artistik yang melekat pada representasi dunia binatang dalam kehidupan sehari-hari dan spiritual masyarakat Jawa Kuno.
KRT. Cahya Surya Setyonagoro, M.Sn. 

Selasa, 25 Maret 2025

SUNGGING WARANGKA KERIS EPISODE LAKON SAMUDRA MANTANA

SUNGGING WARANGKA KERIS
EPISODE LAKON SAMUDRA MANTANA  

Dikisahkan pada zaman Satyayuga, para Dewa dan asura (rakshasa) bersidang di puncak gunung Mahameru untuk mencari cara mendapatkan tirta amerta, yaitu air suci yang dapat membuat hidup menjadi abadi. Sang Hyang Nārāyana (Wisnu) bersabda, "Kalau kalian menghendaki tirta amerta tersebut, aduklah lautan Ksera (Kserasagara), sebab dalam lautan tersebut terdapat tirta amerta. Maka dari itu, kerjakanlah!"
Setelah mendengar perintah Sang Hyang Nārāyana, berangkatlah para Dewa dan asura pergi ke laut Ksera. Terdapat sebuah gunung bernama Gunung Mandara (Mandaragiri) di Sangka Dwipa (Pulau Sangka), tingginya sebelas ribu yojana. Gunung tersebut dicabut oleh Sang Anantabhoga beserta segala isinya.
Setelah mendapat izin dari Dewa Samudera, gunung Mandara dijatuhkan di laut Ksira sebagai tongkat pengaduk lautan tersebut. Seekor kura-kura (kurma) raksasa bernama Akupa yang konon katanya sebagai penjelmaan Wisnu, menjadi dasar pangkal gunung tersebut. Ia disuruh menahan gunung Mandara supaya tidak tenggelam.
Naga Basuki dipergunakan sebagai tali, membelit lereng gunung tersebut. Dewa Indra menduduki puncaknya, suapaya gunung tersebut tidak melambung ke atas. Setelah siap, para Dewa, rakshasa dan asura mulai memutar gunung Mandara dengan menggunakan Naga Basuki sebagai tali. Para Dewa memegang ekornya sedangkan para asura dan rakshasa memegang kepalanya. Mereka berjuang dengan hebatnya demi mendapatkan tirta amerta sehingga laut bergemuruh.
Gunung Mandara menyala, Naga Basuki menyemburkan bisa membuat pihak asura dan rakshasa kepanasan. Lalu Dewa Indra memanggil awan mendung yang kemudian mengguyur para asura dan rakshasa. Lemak segala binatang di gunung Mandara beserta minyak kayu hutannya membuat lautan Ksira mengental, pemutaran Gunung Mandara pun makin diperhebat.
Saat lautan diaduk, racun mematikan yang disebut Halahala menyebar. Racun tersebut dapat membunuh segala makhluk hidup. Dewa Siwa kemudian meminum racun tersebut maka lehernya menjadi biru dan disebut Nilakantha (Sanskerta: Nila: biru, Kantha: tenggorokan). Setelah itu, berbagai dewa-dewi, binatang, dan harta karun muncul, yaitu:
Sura, Dewi yang menciptakan minuman anggur
Apsara, kaum bidadari kahyangan
Kostuba, permata yang paling berharga di dunia
Uccaihsrawa, kuda para Dewa
Kalpawreksa, pohon yang dapat mengabulkan keinginan
Kamadhenu, sapi pertama dan ibu dari segala sapi
Airawata, kendaraan Dewa Indra
Laksmi, Dewi keberuntungan dan kemakmuran
Akhirnya keluarlah Dhanwantari membawa kendi berisi tirta amerta. Karena para Dewa sudah banyak mendapat bagian sementara para asura dan rakshasa tidak mendapat bagian sedikit pun, maka para asura dan rakshasa ingin agar tirta amerta menjadi milik mereka. Akhirnya tirta amerta berada di pihak para asura dan rakshasa dan Gunung Mandara dikembalikan ke tempat asalnya, Sangka Dwipa.
Melihat tirta amerta berada di tangan para asura dan rakshasa, Dewa Wisnu memikirkan siasat bagaimana merebutnya kembali. Akhirnya Dewa Wisnu mengubah wujudnya menjadi seorang wanita yang sangat cantik, bernama Mohini. Wanita cantik tersebut menghampiri para asura dan rakshasa. Mereka sangat senang dan terpikat dengan kecantikan wanita jelmaan Wisnu.
Karena tidak sadar terhadap tipu daya, mereka menyerahkan tirta amerta kepada Mohini. Setelah mendapatkan tirta, wanita tersebut lari dan mengubah wujudnya kembali menjadi Dewa Wisnu. Melihat hal itu, para asura dan rakshasa menjadi marah. Kemudian terjadilah perang antara para Dewa dengan asura dan rakshasa.
Pertempuran terjadi sangat lama dan kedua pihak sama-sama sakti. Agar pertempuran dapat segera diakhiri, Dewa Wisnu memunculkan senjata cakra yang mampu menyambar-nyambar para asura dan rakshasa. Kemudian mereka lari tunggang langgang karena menderita kekalahan. Akhirnya tirta amerta berada di pihak para Dewa.
Para Dewa kemudian terbang ke Wisnuloka, kediaman Dewa Wisnu, dan di sana mereka meminum tirta amerta sehingga hidup abadi. Seorang rakshasa yang merupakan anak Sang Wipracitti dengan Sang Singhika mengetahui hal itu, kemudian ia mengubah wujudnya menjadi Dewa dan turut serta meminum tirta amerta. Hal tersebut diketahui oleh Dewa Aditya dan Chandra, yang kemudian melaporkannya kepada Dewa Wisnu.
Dewa Wisnu kemudian mengeluarkan senjata chakranya dan memenggal leher sang rakshasa, tepat ketika tirta amerta sudah mencapai tenggorokannya. Badan sang rakshasa mati, namun kepalanya masih hidup karena tirta amerta sudah menyentuh tenggorokannya. Sang rakshasa marah kepada Dewa Aditya dan Chandra, dan bersumpah akan memakan mereka pada pertengahan bulan.







Kamis, 20 Maret 2025

Program Studi Senjata Tradisional Keris ISI Surakarta

Program Studi Senjata Tradisional Keris

Program Studi Senjata Tradisional Keris di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta adalah program pendidikan tinggi yang berfokus pada pelestarian, pengkajian, serta pengembangan seni pembuatan keris sebagai warisan budaya Indonesia. Program ini berada di bawah Fakultas Seni Rupa dan Desain dan bertujuan untuk mencetak lulusan yang memiliki kompetensi dalam bidang kriya senjata tradisional, terutama dalam aspek pembuatan (teknik tempa), estetika, filosofi, hingga konservasi keris.

Sebagai satu-satunya program studi di Indonesia yang secara khusus mendalami keris dalam konteks akademik, Prodi ini berperan penting dalam menjaga kelangsungan tradisi pembuatan keris, baik dari perspektif teknis, historis, maupun budaya. Program ini juga mengacu pada regulasi pemerintah terkait pendidikan tinggi vokasi, seperti Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 2014, yang mengarahkan pendidikan vokasi agar relevan dengan kebutuhan industri dan pelestarian budaya.

Program studi ini memiliki kurikulum yang mencakup:
Teknik pembuatan keris (besalen, penempaan, pamor, bilah, warangka)
Sejarah dan filosofi keris (makna simbolik, spiritualitas, dan pengaruh budaya)
Kajian estetika dan konservasi (restorasi, dokumentasi, dan preservasi keris)
Metode reproduksi seni (replikasi dan inovasi dalam pembuatan keris)

Sebagai bagian dari ISI Surakarta, program studi ini juga bekerja sama dengan berbagai komunitas, seperti pengrajin keris, museum, kolektor, serta lembaga budaya untuk memperkuat penelitian dan praktik pembuatan keris.


Visi dan Misi

  • Visi: Menjadi pusat unggulan dalam pendidikan, penelitian, dan penciptaan keris sebagai senjata tradisional dengan pendekatan seni, budaya, dan teknologi.
  • Misi:
    1. Menyelenggarakan pendidikan berbasis keterampilan praktik dan teori dalam pembuatan keris.
    2. Mengembangkan penelitian tentang seni, sejarah, dan filosofi keris.
    3. Berkontribusi dalam pelestarian dan revitalisasi tradisi pembuatan keris.
    4. Berkolaborasi dengan empu, besalen, komunitas, dan institusi budaya terkait.






Kurikulum dan Kompetensi

Program ini menawarkan mata kuliah yang mencakup aspek teknis, historis, dan artistik dalam pembuatan serta kajian keris, seperti:

  • Teknik tempa dan pamor keris
  • Filosofi dan simbolisme keris
  • Konservasi dan restorasi keris
  • Kajian seni dan budaya tosan aji
  • Manajemen seni kriya dan wirausaha seni



Keunggulan Program

  • Satu-satunya program akademik di Indonesia yang secara khusus mempelajari keris sebagai senjata tradisional.
  • Didukung oleh para praktisi dan akademisi yang berpengalaman dalam dunia perkerisan.
  • Bekerja sama dengan komunitas empu, besalen, serta lembaga budaya dan museum.
  • Menghasilkan lulusan yang dapat berkarier sebagai pembuat keris, konservator, peneliti, kolektor, dan akademisi dalam bidang senjata tradisional.