Surya Galery Pusaka
Galery ini membahas mengenai senjata adat dan beberapa koleksi. Kajian mengenai Keris dan Pusaka di Nusantara yang berhasil ditemui oleh penulis, dalam blog ini penulis juga membahas mengenai ritual, prosesi dan beberapa festival yang ada di seputar Kajian benda Pusaka Tersebut.
Selasa, 25 Maret 2025
SUNGGING WARANGKA KERIS EPISODE LAKON SAMUDRA MANTANA
Kamis, 20 Maret 2025
Program Studi Senjata Tradisional Keris ISI Surakarta
Program Studi Senjata Tradisional Keris
Program Studi Senjata Tradisional Keris di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta adalah program pendidikan tinggi yang berfokus pada pelestarian, pengkajian, serta pengembangan seni pembuatan keris sebagai warisan budaya Indonesia. Program ini berada di bawah Fakultas Seni Rupa dan Desain dan bertujuan untuk mencetak lulusan yang memiliki kompetensi dalam bidang kriya senjata tradisional, terutama dalam aspek pembuatan (teknik tempa), estetika, filosofi, hingga konservasi keris.
Sebagai satu-satunya program studi di Indonesia yang secara khusus mendalami keris dalam konteks akademik, Prodi ini berperan penting dalam menjaga kelangsungan tradisi pembuatan keris, baik dari perspektif teknis, historis, maupun budaya. Program ini juga mengacu pada regulasi pemerintah terkait pendidikan tinggi vokasi, seperti Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 2014, yang mengarahkan pendidikan vokasi agar relevan dengan kebutuhan industri dan pelestarian budaya.
Sebagai bagian dari ISI Surakarta, program studi ini juga bekerja sama dengan berbagai komunitas, seperti pengrajin keris, museum, kolektor, serta lembaga budaya untuk memperkuat penelitian dan praktik pembuatan keris.
Visi dan Misi
- Visi: Menjadi pusat unggulan dalam pendidikan, penelitian, dan penciptaan keris sebagai senjata tradisional dengan pendekatan seni, budaya, dan teknologi.
- Misi:
- Menyelenggarakan pendidikan berbasis keterampilan praktik dan teori dalam pembuatan keris.
- Mengembangkan penelitian tentang seni, sejarah, dan filosofi keris.
- Berkontribusi dalam pelestarian dan revitalisasi tradisi pembuatan keris.
- Berkolaborasi dengan empu, besalen, komunitas, dan institusi budaya terkait.
Kurikulum dan Kompetensi
Program ini menawarkan mata kuliah yang mencakup aspek teknis, historis, dan artistik dalam pembuatan serta kajian keris, seperti:
- Teknik tempa dan pamor keris
- Filosofi dan simbolisme keris
- Konservasi dan restorasi keris
- Kajian seni dan budaya tosan aji
- Manajemen seni kriya dan wirausaha seni
Keunggulan Program
- Satu-satunya program akademik di Indonesia yang secara khusus mempelajari keris sebagai senjata tradisional.
- Didukung oleh para praktisi dan akademisi yang berpengalaman dalam dunia perkerisan.
- Bekerja sama dengan komunitas empu, besalen, serta lembaga budaya dan museum.
- Menghasilkan lulusan yang dapat berkarier sebagai pembuat keris, konservator, peneliti, kolektor, dan akademisi dalam bidang senjata tradisional.
Kamis, 27 Februari 2025
Kajian Pakaian adat yang dikenakan oleh Pangeran Poerwonegoro
Pakaian adat yang dikenakan oleh Pangeran Poerwonegoro, yang dalam keterangan disebut sebagai "lijfwacht van de Susuhunan van Solo" (pengawal pribadi Susuhunan Surakarta) pada tahun 1870, merupakan pakaian khas keprajuritan Keraton Kasunanan Surakarta. Berikut deskripsi lengkapnya:
1. Penutup Kepala: Topi Blechdeksel
- Ia mengenakan topi berbentuk kerucut tinggi yang disebut Blechdeksel, khas pengawal kerajaan Kasunanan Surakarta pada abad ke-19.
- Terbuat dari bahan logam atau kulit yang diperkeras, topi ini melambangkan kedudukan dan tugas keprajuritan, khususnya sebagai pengawal istana.
2. Baju: Beskap atau Jas Prajurit
- Atasan yang dikenakan mirip dengan beskap, yaitu baju berpotongan pendek dan pas di badan, berlengan panjang, serta berwarna gelap (kemungkinan hitam atau biru tua).
- Beskap ini memiliki kerah tinggi dan dihiasi dengan ornamen tali pengikat, menandakan seragam resmi keprajuritan.
- Pada bagian bahu terlihat adanya selempang putih, kemungkinan bagian dari atribut keprajuritan atau tanda jabatan.
3. Kain: Dodot atau Jarik Batik
- Kain yang dikenakan di bagian bawah adalah dodot atau jarik batik, kain panjang khas Jawa yang dililitkan di pinggang.
- Motifnya kemungkinan menggunakan batik parang atau motif keraton, yang hanya boleh dikenakan oleh keluarga bangsawan dan prajurit tinggi.
4. Celana Prajurit
- Bagian bawah juga tampak menggunakan celana pendek khusus prajurit, yang diikat di bagian bawah lutut dengan aksen kain atau tali.
- Model celana ini umum digunakan oleh prajurit keraton atau abdi dalem keprajuritan untuk memberikan fleksibilitas dalam bergerak.
5. Senjata: Keris dengan Warangka Gaya Surakarta
- Ia membawa keris yang terselip di bagian belakang pinggangnya dengan gagang menghadap ke kanan.
- Warangka atau sarung kerisnya mengikuti gaya Surakarta, kemungkinan berbahan kayu berukir, yang menandakan status dan kehormatan sebagai bagian dari pengawal istana.
6. Kaki: Tanpa Alas Kaki
- Kaki dibiarkan tanpa alas, yang merupakan kebiasaan bagi prajurit keraton dalam berbagai upacara atau kegiatan resmi, melambangkan kesederhanaan dan kedisiplinan.
Pakaian Prajurit Pengawal Keraton
Pakaian yang dikenakan oleh Pangeran Poerwonegoro dalam foto ini adalah seragam resmi pengawal pribadi Susuhunan Kasunanan Surakarta pada tahun 1870. Pakaian ini memadukan unsur kekhasan keprajuritan Jawa dan pengaruh seragam Eropa dalam bentuk beskap dan topi tinggi. Sebagai seorang lijfwacht (pengawal pribadi raja), ia mengenakan atribut terhormat dan memiliki simbol keprajuritan yang kuat, seperti topi Blechdeksel, beskap keprajuritan, dodot batik, celana ikat, dan keris pusaka. Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah prajurit elite dalam struktur militer Keraton Surakarta.
Seragam ini jelas menunjukkan kedudukan tinggi dalam struktur keprajuritan Keraton Kasunanan Surakarta. Penggunaan topi Blechdeksel menjadi tanda bahwa pakaian ini diperuntukkan bagi pasukan elite atau pengawal pribadi raja, bukan prajurit biasa. Selain itu, kombinasi beskap berlengan panjang dan jarik batik bermotif khas keraton semakin menegaskan bahwa pemakainya berasal dari golongan bangsawan atau prajurit pilihan yang memiliki peran penting dalam menjaga keamanan dan kehormatan istana.
Perpaduan Tradisional dan Modern
Pakaian ini merupakan bentuk adaptasi budaya, di mana unsur busana tradisional Jawa (beskap, jarik, dan keris) berpadu dengan pengaruh seragam militer Eropa (topi tinggi dan model beskap yang lebih tegas). Hal ini mencerminkan dinamika sosial-politik Kasunanan Surakarta pada abad ke-19, ketika pengaruh kolonial mulai masuk namun tetap mempertahankan identitas budaya lokal.
Keserasian dengan Keris Berwarangka Gayaman Surakarta
Keris yang dikenakan adalah keris dengan warangka gayaman khas Surakarta, yang memiliki bentuk sederhana, ergonomis, dan praktis untuk dikenakan sehari-hari. Warangka gayaman dengan sunggingan khas Keraton Surakarta menambah kesan kemewahan dan status sosial, terutama jika sunggingannya menggunakan emas atau ornamen khas keraton. Bentuk gayaman yang melengkung mengikuti lekuk tubuh memungkinkan pemakainya bergerak lebih leluasa, sesuai dengan tugasnya sebagai pengawal kerajaan.
Keris sebagai Simbol Pangkat dan Jabatan
Dalam tradisi keraton Surakarta, keris bukan hanya senjata, tetapi juga simbol kehormatan, jabatan, dan legitimasi seseorang dalam hierarki istana. Pengawal pribadi Susuhunan tentu tidak mengenakan keris sembarangan, tetapi keris dengan warangka dan sunggingan khusus yang mencerminkan pangkatnya. Sunggingan emas atau ukiran halus pada warangka gayaman menjadi tanda kehormatan, membedakan pemiliknya dari prajurit biasa.
Kesimpulan
Keserasian antara pakaian keprajuritan dan keris berwarangka gayaman dengan sunggingan khas Surakarta sangat harmonis, baik dari segi fungsi maupun estetika. Seragam ini bukan hanya menunjukkan identitas sebagai prajurit, tetapi juga status sosial, tugas, dan keistimewaan seseorang di dalam lingkungan keraton. Pakaian ini juga menjadi bukti bagaimana budaya Jawa mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, tanpa kehilangan nilai tradisional dan filosofi keprajuritan yang diwariskan oleh Keraton Kasunanan Surakarta.
Daftar Pustaka Berikut adalah rujuk untuk informasi lebih lanjut mengenai pakaian adat Jawa, khususnya yang dikenakan oleh pengawal Keraton Kasunanan Surakarta pada abad ke-19:
Condronegoro, Mari. (1995). Memahami Busana Adat Kraton Yogyakarta. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama. Buku ini membahas secara mendalam tentang berbagai jenis busana adat di lingkungan Keraton Yogyakarta, termasuk pakaian keprajuritan dan simbolisme di baliknya.
Ricklefs, M.C. (2002). Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792: Sejarah Pembagian Jawa. Yogyakarta: Mata Bangsa. Karya ini mengulas sejarah Kesultanan Yogyakarta, termasuk aspek budaya dan pakaian tradisional pada masa pemerintahan Sultan Mangkubumi.
Suwito & Marwito. (2009). Pakaian Keprajuritan Kasultanan Yogyakarta. Yogyakarta: Keraton Yogyakarta. Buku ini mengkaji berbagai pakaian keprajuritan di Kasultanan Yogyakarta, yang memiliki kesamaan dengan pakaian adat di Keraton Surakarta, mengingat akar budaya yang sama.
Wasino. (2014). Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunegaran 1896-1944. Jakarta: Penerbit Kompas. Buku ini membahas modernisasi di Mangkunegaran, termasuk adaptasi pakaian militer Eropa dalam seragam Legiun Mangkunegaran, yang relevan dengan pakaian pengawal keraton pada masa tersebut.
Santosa, Iwan. (2011). Legiun Mangkunegaran (1808-1942): Tentara Jawa-Perancis Warisan Napoleon Bonaparte. Jakarta: Penerbit Kompas. Karya ini mengulas sejarah Legiun Mangkunegaran, termasuk detail mengenai seragam dan atribut keprajuritan yang dipengaruhi oleh budaya Eropa dan Jawa.
Soekiman, Djoko. (2014). Kebudayaan Indis: Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi. Depok: Komunitas Bambu. Buku ini membahas percampuran budaya antara pribumi dan Eropa, termasuk dalam hal busana dan seragam militer pada masa kolonial.
Samsudi. (2000). Aspek-Aspek Arsitektur Kolonial Belanda pada Bangunan Puri Mangkunegaran. Semarang: Universitas Diponegoro. Meskipun fokus pada arsitektur, buku ini juga menyinggung aspek budaya dan pakaian tradisional di lingkungan Puri Mangkunegaran.
Pratiwi, Anita Dhian. (2014). "Legiun Mangkunegaran Tahun 1916-1942 dan Implementasinya dalam Pembelajaran Sejarah". Candi, Vol. 7(1), hlm. 5-6. Artikel ini membahas sejarah Legiun Mangkunegaran, termasuk seragam dan atribut yang dikenakan oleh para prajuritnya.
Jumat, 06 Desember 2024
Fungsi Condong Leleh Keris
Fungsi Condong Leleh Keris
Condong Leleh pada keris tidak sekedar menunjukan sudut kemiringan bilah, tetapi juga memiliki fungsi tertentu, yaitu fungsi teknis, estetika dan makna simbolis
- Fungsi teknis sebagai ketajaman bilah keris, penanda dan kedudukan keris
- Fungsi Estetika bagian keindahan keris
- Fungsi makna simbolis yg terinspirasi dan dimuncul dari watak, karakter, cara pandang dan sikap manusia.
Sikap tersebut dapat kita liat dalam visualisasi karakter wayang...dgn posisi kepala yg menunjukan karakter dan makna simbolis yg berbeda beda.
Seperti posisi
- Tegak Suryo matahari, bermakna berwibawa, Wisesa dan kekuasaan
- Agak menunduk, Candra Bulan bermakna, waspada atau waskitha dan bijaksana
- Menunduk lagi Kartika bintang, makna jarak pandang melihat bintang, perhatian, menarik hati, popularitas, untuk menjadi bintang.
- Sangat menunduk Buwono bumi, bermakna pandangan ke arah bumi, bermakna karejeken, rejeki jatuh ke bumi, memberi sikap yg merendah seperti padi berisi.
Fungsi dan Makna condong leleh keris merupakan satu kesatuan fungsi teknis, estetika dan simbolis, yg memiliki rasa dan karakter tertentu, yg memberikan pengaruh dan membangkitkan spirit bagi pemiliknya.
Biasanya seorang Mpu akan membuat condong leleh keris, akan di padu dgn pamor yg sesuai dgn tujuan dan makna simbolis.
Seperti :
- Keris utk kewibawaan biasanya Condong Leleh Suryo dgn pamor Blarak Sineret
- Pamor Udan emas Condong Leleh Buwono
- Pamor Sekar atau Ron Genduru Condong Leleh Kartiko
- Pamor Adeg Condong Leleh Candra
Pendahuluan
Keris merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang sarat dengan nilai filosofis, estetika, dan spiritual. Dalam proses pembuatannya, setiap elemen pada keris dirancang dengan tujuan tertentu, baik dari segi fungsi maupun simbolisme. Salah satu bagian penting dari keris adalah condong leleh, yaitu bagian lekukan kecil yang terdapat pada bagian bawah bilah keris, tepat di dekat ganja. Elemen ini sering kali menjadi perhatian para penggemar dan peneliti keris karena perannya yang tidak hanya estetis tetapi juga fungsional.
Dalam budaya Nusantara, keris tidak hanya dianggap sebagai senjata tradisional, tetapi juga sebagai simbol status sosial, spiritualitas, dan kekuatan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap setiap elemen keris, termasuk condong leleh, menjadi bagian integral dalam mengapresiasi keindahan dan makna di balik keris itu sendiri.
Deskripsi dan Fungsi Condong Leleh
Condong leleh merupakan lekukan kecil yang terdapat di area bilah keris di dekat ganja. Fungsi utamanya dapat dibagi menjadi dua aspek utama:
- Fungsi StrukturalCondong leleh membantu menjaga keseimbangan dan kekuatan struktur keris. Dengan adanya lekukan ini, tekanan yang diterima bilah keris saat digunakan dapat terdistribusi lebih merata, sehingga mengurangi risiko patah atau retak pada bilah.
- Fungsi Estetika dan FilosofisDalam estetika keris, condong leleh menambah harmoni visual pada desain keseluruhan. Lekukan ini sering dianggap sebagai simbol keharmonisan dan kesinambungan. Secara filosofis, condong leleh melambangkan keluwesan atau kerendahan hati, mencerminkan nilai-nilai yang dihormati dalam budaya Jawa.
Sebagai bagian dari keris, condong leleh menunjukkan bagaimana seni dan fungsi berpadu dalam menciptakan karya yang tidak hanya indah tetapi juga bermakna. Elemen ini mengingatkan bahwa setiap detail dalam keris memiliki makna mendalam yang mencerminkan kearifan lokal Nusantara.
Bagian-Bagian Condong Leleh pada Keris dan Maknanya
Condong leleh adalah salah satu elemen kecil tetapi signifikan pada bilah keris. Bagian ini memiliki komponen-komponen yang dapat diuraikan secara rinci, masing-masing memiliki fungsi dan makna tertentu dalam estetika serta filosofi keris. Berikut adalah deskripsi bagian-bagiannya:
1. Lekukan Utama (Alur Condong Leleh)
- Deskripsi:Lekukan utama ini berbentuk seperti garis melengkung yang dimulai dari ujung bawah bilah keris, tepat di atas ganja, mengarah sedikit ke atas sebelum menyatu dengan bagian bilah.
- Makna:Melambangkan keluwesan dan harmoni. Filosofinya terkait dengan sifat fleksibel dan adaptif yang diperlukan dalam menjalani kehidupan, sejalan dengan nilai-nilai budaya Jawa yang menekankan kebijaksanaan dalam bertindak.
2. Pangkal Condong Leleh
- Deskripsi:Merupakan titik awal lekukan, terletak sangat dekat dengan pejetan atau bagian bawah bilah. Pangkal ini sering terlihat sebagai titik yang mengarahkan pola aliran lekukan.
- Makna:Melambangkan awal perjalanan hidup atau suatu proses. Filosofinya menunjukkan bahwa semua hal besar dimulai dari sesuatu yang kecil, menekankan pentingnya memulai dengan niat baik.
3. Lengkung (Kelokan Halus)
- Deskripsi:Lengkungan yang membentuk kurva kecil pada condong leleh sering kali dibuat dengan sangat halus, menciptakan tampilan harmonis.
- Makna:Menunjukkan perjalanan hidup yang tidak selalu lurus, penuh liku-liku dan tantangan. Filosofinya mengajarkan kesabaran dan kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai rintangan.
4. Sambungan ke Bilah
- Deskripsi:Bagian di mana condong leleh menyatu secara alami dengan bilah keris. Sambungan ini biasanya dibuat tanpa garis tegas, memberikan kesan transisi yang halus.
- Makna:Melambangkan penyatuan elemen kehidupan—antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Filosofinya menekankan harmoni antara duniawi dan spiritual.
5. Hubungan dengan Ganja
- Deskripsi:Condong leleh selalu berdekatan dengan ganja, bagian bawah keris yang sering dianggap sebagai "pondasi" dari keris itu sendiri. Hubungan ini mencerminkan keseimbangan dan dukungan struktural yang diberikan oleh ganja.
- Makna:Menunjukkan pentingnya dasar yang kuat dalam kehidupan, baik secara spiritual maupun fisik. Ganja dan condong leleh bersama-sama melambangkan hubungan antara manusia dengan landasan moral dan spiritualnya.
Penutup
Setiap bagian condong leleh tidak hanya dirancang untuk fungsi mekanis, tetapi juga memiliki nilai estetika dan filosofi yang mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa keris adalah simbol kearifan lokal yang menggabungkan seni, spiritualitas, dan tradisi secara harmonis.
KRT. Cahya Surya Setyonagoro
Kamis, 05 Desember 2024
Misteri Arca-Arca Kuno
“Misteri Arca-Arca Kuno Ciampea: Jejak Masa Silam di Bogor”
Di lereng-lereng Pasir Sinala yang kini dikenal sebagai Ciampea, Bogor, peninggalan masa lampau tersimpan dalam bentuk arca-arca penuh teka-teki. Karya-karya pahatan ini, yang sebagian besar ditemukan antara abad ke-8 hingga ke-13 Masehi, mengundang pertanyaan besar:
Telah telusuri beberapa arca yang sempat terdokumentasikan oleh fotografer legendaris Isidore van Kinsbergen pada tahun 1876.
1. Arca Ciampea Bogor
Arca ini menggambarkan sosok misterius, mungkin seorang raksasa. Berasal dari Tjampea, Bogor, arca ini menjadi salah satu bukti arkeologis yang memicu berbagai spekulasi. Arca ini sempat diabadikan oleh Isidore van Kinsbergen dan dideskripsikan dalam karya Bernet Kempers pada tahun 1959.
2. Arca Gajah dari Ciampea
Arca ini adalah sosok gajah yang diperkirakan berasal dari abad ke-8 hingga ke-13 M. Menurut catatan, patung ini digunakan sebagai nisan seorang pemuda yang gugur dalam pemberontakan. Lokasi penemuan di Kebon Koppi, Ciampea, Bogor, menghubungkan arca ini dengan tradisi lokal yang kaya akan simbolisme.
3. Arca Tanpa Kepala
Dijuluki sebagai “Headless Ascetic”, arca ini ditemukan di puncak Pasir Sinala. Meski kepala aslinya hilang, bagian itu diganti demi keperluan pemotretan, sebuah kesalahan fatal menurut para peneliti. Ukiran ini menonjol dengan desain yang sederhana, tanpa gelang tangan atau kilat bahu, dan kini menjadi sorotan dalam koleksi Universitas Leiden.
4. Arca Ciampea dengan Kepala Tambahan
Salah satu arca yang menarik perhatian adalah “Headless Ascetic with Detached Head”. Dalam foto yang diambil, kepala tambahan diletakkan untuk melengkapi arca ini. Diperkirakan berasal dari abad ke-13 hingga ke-16 M, masa ketika Kerajaan Sunda mulai mengalami kemunduran.
5. Arca dengan Mata Menonjol dan Taring
Arca ini menggambarkan seorang pertapa dengan mata melotot, taring, dan kalung ular. Terletak di antara kakinya, terdapat dua tengkorak yang menambah kesan mistis. Hingga akhir abad ke-19, patung ini masih digunakan dalam ritual lokal yang sarat mitos.
Kesimpulan
Arca-arca kuno dari Ciampea adalah saksi bisu sejarah yang menyimpan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Apakah mereka bagian dari kejayaan Tarumanagara atau Sunda Pajajaran? Mungkin, jawabannya ada di antara bebatuan kapur Pasir Sinala, menunggu untuk ditemukan.
#SejarahCiampea #MisteriArcaKuno #PeninggalanBogor #WarisanNusantara #JejakKerajaanSunda
“Penemuan Arca Kuno Bergaya Siwaisme di Ujung Kulon,
Jejak Budaya di Nusantara”
Sebuah penemuan bersejarah kembali mencuat dari Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Arkeolog menemukan sejumlah arca kuno yang terdiri atas dua arca kepala, lima arca pion, dan sebuah batu lumpang. Penemuan ini diduga berasal dari abad ke-7 Masehi dan memiliki gaya khas Siwaisme, menandai pengaruh budaya India yang mulai masuk ke Nusantara pada masa awal.
“Temuan ini menjadi bukti adanya pengaruh budaya India di tanah Jawa sejak masa awal. Hal ini sangat penting untuk memahami perkembangan peradaban di kawasan Nusantara,” ungkap Agus Aris Munandar, Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia.
Proses penggalian di lokasi tersebut masih berlangsung, di tengah harapan akan munculnya temuan-temuan lain yang bisa memperkaya sejarah interaksi budaya kuno di wilayah ini. Jejak budaya Siwaisme di arca-arca ini memberikan gambaran penting tentang peradaban Jawa purba dan pengaruh luar yang membentuknya.
(Sumber: Tempo, Kompas, Radar Banten)
#SejarahNusantara #PenemuanArkeologi #cagarbudayaindonesia #SiwaismeKuno #UjungKulonHeritage
Rabu, 04 September 2024
Sejarah Kebangkitan Keris Kamardikan
Sejarah Kebangkitan Keris Kamardikan
Keris Kamardikan merupakan jenis keris yang muncul pada masa setelah Indonesia merdeka, sering dikaitkan dengan upaya menjaga tradisi dan kebudayaan Jawa dalam konteks modern. Istilah "kamardikan" sendiri berasal dari kata "merdeka," yang berarti kebebasan atau kemerdekaan, sehingga keris ini sering dianggap sebagai simbol kedaulatan budaya Indonesia yang telah merdeka dari penjajahan.
Pada akhir tahun 1970-an, di tengah kebangkitan kembali minat terhadap budaya dan tradisi Jawa, muncul tokoh-tokoh penting dalam dunia perkerisan, termasuk Empu Yosopangroso, seorang empu yang dikenal dalam dunia perkerisan modern. Bersama dengan kedua anaknya, dan didukung oleh seorang kolektor asal Jerman bernama Dietrich Drescher, mereka terlibat dalam proses pembuatan keris yang kemudian dikenal sebagai Keris Kamardikan. Keris Kamardikan pertama ini diciptakan sebagai bagian dari usaha untuk melestarikan dan mengembangkan seni pembuatan keris di era modern.
Empu Jeno, salah satu anak Empu Yosopangroso, kemudian menjadi salah satu empu terkemuka di Indonesia yang turut melanjutkan tradisi pembuatan keris. Keris-keris yang dibuat oleh Empu Jeno dan keluarganya terkenal akan keindahan dan kekuatannya, serta dipandang sebagai bentuk adaptasi tradisi yang relevan dengan zaman setelah Indonesia merdeka.
Dalam konteks ini, Dietrich Drescher berperan sebagai pendukung dan pengagum kebudayaan Jawa, yang melalui kolaborasi dengan Empu Yosopangroso dan anak-anaknya, membantu menciptakan keris yang tidak hanya mempertahankan warisan budaya, tetapi juga mengembangkannya di era modern. Kolaborasi ini juga menunjukkan bagaimana budaya lokal dapat bertemu dan berinteraksi dengan budaya asing dalam cara yang positif dan kreatif.
Mpu Subandi Suponingrat dan Dietrich Drescher memainkan peran penting dalam kebangkitan kembali produksi keris pada akhir abad ke-20, terutama setelah sempat terjadi penurunan minat terhadap keris sebagai simbol budaya dan seni tradisional.
Mpu Subandi Suponingrat adalah seorang empu yang dikenal dengan dedikasinya dalam menjaga tradisi pembuatan keris. Sebagai penerus dari garis panjang pembuat keris, Mpu Subandi memiliki keterampilan yang mumpuni dalam menciptakan keris dengan estetika dan filosofi yang mendalam, yang mencerminkan nilai-nilai spiritual dan budaya Jawa.
Dietrich Drescher, seorang kolektor dan pecinta budaya asal Jerman, tertarik dengan keindahan dan makna filosofis di balik keris. Dengan kecintaannya terhadap seni dan budaya Jawa, Drescher menjadi salah satu tokoh asing yang berperan dalam melestarikan dan mempromosikan keris di kalangan internasional. Ia tidak hanya mengumpulkan keris tetapi juga berusaha memahami dan mendalami tradisi pembuatan keris dari para empu di Jawa.
Kebangkitan produksi keris ini terjadi dalam konteks globalisasi dan modernisasi, di mana banyak tradisi lokal menghadapi tantangan untuk tetap relevan. Mpu Subandi dan Dietrich Drescher bekerja sama untuk memastikan bahwa pembuatan keris tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang dengan cara yang selaras dengan zaman modern. Mereka fokus pada kualitas, keaslian, dan penghormatan terhadap tradisi, sambil juga membuka peluang bagi inovasi dan interpretasi baru dalam pembuatan keris.
Upaya mereka melibatkan berbagai langkah, termasuk:
Peningkatan Kualitas dan Keaslian: Mpu Subandi terus menghasilkan keris-keris berkualitas tinggi yang sesuai dengan standar tradisional, memastikan bahwa setiap keris yang dibuat memiliki nilai artistik dan spiritual yang mendalam.
Edukasi dan Promosi: Dietrich Drescher, dengan jaringan internasionalnya, membantu mempromosikan keris sebagai karya seni yang memiliki nilai budaya dan sejarah yang penting. Ia juga berkontribusi dalam edukasi tentang keris, baik di kalangan kolektor maupun masyarakat umum, baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Kolaborasi dan Inovasi: Melalui kolaborasi ini, mereka juga membuka ruang untuk inovasi dalam pembuatan keris. Meskipun tetap menghormati tradisi, Mpu Subandi dan Drescher memungkinkan interpretasi baru dalam desain dan pembuatan keris yang relevan dengan kebutuhan dan selera modern.
Revitalisasi Pasar Keris: Dengan memperkenalkan keris kepada audiens yang lebih luas dan mendukung empu-empu lainnya untuk terus berkarya, mereka berhasil membangkitkan kembali minat terhadap keris, baik sebagai objek seni maupun sebagai simbol budaya yang hidup.
Kolaborasi antara Mpu Subandi Suponingrat dan Dietrich Drescher menjadi salah satu contoh sukses dari upaya melestarikan dan memodernisasi warisan budaya dalam konteks global yang terus berubah.
Kota Surakarta, atau Solo, merupakan salah satu pusat kebudayaan Jawa yang terkenal dengan tradisi pembuatan kerisnya. Sejak lama, Solo dikenal sebagai tempat tinggal dan berkarya bagi banyak empu (pembuat keris) yang menghasilkan keris-keris berkualitas tinggi. Berikut adalah beberapa empu terkenal dari Surakarta yang telah berkontribusi dalam melestarikan dan mengembangkan seni pembuatan keris:
1. Mpu Jeno Harumbrojo
- Latar Belakang: Mpu Jeno merupakan salah satu empu terkenal dari keluarga pembuat keris yang sudah turun-temurun di Surakarta. Dia dikenal karena kemampuannya dalam membuat keris dengan teknik tradisional, dan juga berinovasi dalam desain keris.
- Karya: Karya-karya Mpu Jeno dikenal memiliki kualitas tinggi, dengan pamor (pola pada bilah keris) yang indah dan penuh makna filosofis. Keris buatannya sangat diminati oleh kolektor dan peminat keris, baik dari dalam maupun luar negeri.
2. Mpu KRT. Subandi Suponingrat
- Latar Belakang: Mpu Subandi adalah empu lain dari Surakarta yang telah disebutkan sebelumnya. Dia merupakan salah satu empu yang secara aktif menjaga tradisi pembuatan keris sambil berkolaborasi dengan pihak luar untuk memperkenalkan keris ke dunia internasional.
- Karya: Keris-keris buatan Mpu Subandi dikenal karena kualitas artistiknya yang tinggi dan keaslian tradisionalnya. Dia juga dikenal sebagai sosok yang mendukung pelestarian budaya melalui pendidikan dan promosi keris.
3. Mpu Yosopangroso
- Latar Belakang: Mpu Yosopangroso adalah salah satu empu dari generasi sebelumnya yang berperan penting dalam menjaga dan melestarikan tradisi pembuatan keris di Surakarta.
- Karya: Karya-karyanya dikenal karena memiliki makna spiritual dan artistik yang mendalam, serta dihasilkan dengan teknik yang diwariskan turun-temurun.
4. Mpu Daliman ( M.Ng. Daliman Puspobudoyo)
- Latar Belakang: Mpu Daliman adalah seorang empu keris dari Surakarta yang dikenal karena keterampilannya dalam membuat keris dengan teknik tradisional. Dia sering dianggap sebagai salah satu empu yang berperan penting dalam menjaga kualitas dan keaslian pembuatan keris di masa modern.
- Karya: Mpu Daliman menghasilkan berbagai jenis keris yang dihargai karena keindahan pamor dan presisi pengerjaannya. Karya-karyanya dikenal sangat tradisional, dengan penekanan pada nilai-nilai spiritual dan estetika yang tinggi.
5. Mpu Yanto (M.Ng. Suyanto Wiryo Curigo)
- Latar Belakang: Mpu Yanto merupakan salah satu empu yang juga terkenal di Surakarta. Dia dikenal dengan keahliannya dalam menciptakan keris dengan pamor yang rumit dan simbolik.
- Karya: Karya-karya Mpu Yanto biasanya mencerminkan kedalaman filosofi Jawa, dengan setiap keris memiliki makna tersendiri. Kualitas pengerjaan dan kehalusan pamor pada keris-kerisnya menjadikannya diminati oleh kolektor dan penggemar keris.Besalennya Hingga Sekarang diteruskan Oleh Kedua Putranya Eko dan Andi ( Besalen Empu Suyanto Wiryo Curigo).
6. Mpu Yantono
- Latar Belakang: Mpu Yantono adalah empu lain dari Surakarta yang juga dikenal luas dalam komunitas perkerisan. Dia sering dianggap sebagai penerus tradisi perkerisan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai dan teknik-teknik pembuatan keris klasik.
- Karya: Mpu Yantono menghasilkan keris-keris dengan desain yang klasik, sering kali dengan inovasi pada pamor dan bentuk bilah keris. Karyanya dihargai karena keseimbangan antara kekuatan, keindahan, dan makna spiritual.
7. Mpu Kamdi
- Latar Belakang: Mpu Kamdi adalah empu yang terkenal karena inovasinya dalam pembuatan keris, termasuk menciptakan keris dengan desain yang unik dan simbolis. Dia dikenal luas dalam dunia perkerisan karena karyanya yang disebut "Keris Gelombang Cinta".
- Karya - Keris Gelombang Cinta: Keris Gelombang Cinta yang diciptakan oleh Mpu Kamdi adalah salah satu karyanya yang paling terkenal. Keris ini memiliki bilah dengan gelombang (luk) yang unik dan simbolis, melambangkan kasih sayang, kebijaksanaan, dan keseimbangan dalam hidup. Keris ini dihargai tidak hanya sebagai senjata tradisional tetapi juga sebagai karya seni dengan makna filosofis yang dalam.
8. Mpu Fauzan Ndalem Harjonagoro (Go Tik Swan)
- Latar Belakang: Go Tik Swan, yang kemudian dikenal sebagai Mpu Fauzan Ndalem Harjonagoro, adalah seorang budayawan, seniman, dan empu keris yang sangat dihormati, dia berhasil menyatukan berbagai elemen budaya Jawa dalam karyanya, dan diangkat menjadi abdi dalem Keraton Surakarta dengan gelar Ndalem Harjonagoro.
- Karya: Karya-karya Mpu Fauzan terkenal karena menggabungkan keindahan seni dan nilai-nilai spiritual Jawa dalam setiap kerisnya. Dia sering membuat keris yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna filosofis. Karyanya sangat dihargai oleh kolektor dan peminat budaya, baik di dalam negeri maupun internasional. Sebagai seorang empu, Mpu Fauzan memadukan teknik tradisional dengan estetika yang tinggi, sering kali menghasilkan keris yang mencerminkan identitas budaya Jawa yang kuat.
10. KRT. Bagyo Sonto Djojowinoto ( Cucu dari Sontokusomo I )
Mpu Bagyo, yang dikenal juga sebagai Pak Yok Po, adalah salah satu empu terkemuka dari Surakarta dan salah satu pendiri Besalen Sasana Mulyo di Kraton Surakarta. Besalen ini menjadi salah satu pusat penting dalam dunia perkerisan, tempat di mana banyak keris berkualitas tinggi dihasilkan.
Sebagai salah satu pelopor berdirinya Besalen Sasana Mulyo pada tahun 1980-an, Mpu Bagyo bersama rekan-rekannya memainkan peran penting dalam kebangkitan Tosan Aji, yaitu seni pembuatan senjata tradisional, termasuk keris. Besalen ini menjadi tempat berkumpulnya para empu dan pecinta keris untuk melestarikan dan mengembangkan seni pembuatan keris yang sarat akan nilai budaya dan spiritual.
Salah satu karya paling terkenal dari Mpu Bagyo adalah keris Dapur Naga Sapta Kelengan. Keris ini dikenal karena desainnya yang unik dan penuh simbolisme. Dapur (desain) Naga Sapta merujuk pada bentuk keris yang menampilkan motif naga, sebuah simbol kekuatan, perlindungan, dan kebijaksanaan dalam budaya Jawa. Keris ini disebut "kelengan," yang berarti tidak memiliki pamor atau pola pada bilahnya, menjadikannya terlihat polos namun penuh dengan makna yang dalam. Meskipun tanpa pamor, keris kelengan sering kali dianggap memiliki kekuatan spiritual yang kuat. Dapur Naga Sapta Kelengan adalah contoh sempurna bagaimana keris dapat menjadi simbol kekuatan spiritual dan estetika yang sederhana namun berwibawa. Melalui karya-karyanya, termasuk Dapur Naga Sapta Kelengan, Mpu Bagyo menunjukkan bagaimana seni pembuatan keris dapat terus relevan dan dihargai di zaman modern. Dedikasinya terhadap Tosan Aji dan kontribusinya dalam mendirikan Besalen Sasana Mulyo telah memberikan dampak besar bagi dunia perkerisan, tidak hanya di Surakarta tetapi juga di seluruh Indonesia. Warisan Mpu Bagyo terus hidup melalui karya-karyanya dan generasi empu yang terinspirasi oleh dedikasinya terhadap seni dan budaya. Besalen Sasana Mulyo tetap menjadi salah satu pusat penting bagi pelestarian dan pengembangan seni pembuatan keris di Indonesia.
11. Mpu Joko
- Latar Belakang: Mpu Joko Suryono merupakan salah satu empu muda yang muncul di Surakarta, merupakan adik dari Mpu Bagyo dan dikenal karena dedikasinya dalam melestarikan seni pembuatan keris dan pisau. Dia belajar dari empu-empu terdahulunya dan menggabungkan teknik tradisional dengan pendekatan yang lebih modern.
- Karya: Keris-keris buatan Mpu Joko Suroto dikenal dengan kehalusan pengerjaan dan kekuatan spiritual yang terkandung di dalamnya. Dia juga dikenal sering mengadakan pelatihan dan lokakarya untuk mendidik generasi muda tentang pembuatan keris.
Penulis. :KRT. Cahya Setyonagoro. NB. Monggo jika ada koreksi atau penambahan Mengenai Mpu di Kota Surakarta yang belum masuk dalam Penulisan saya. Tujuan dituliskannya hal ini agar sejarah tidak hilang di kemudian Hari.
Selasa, 06 Agustus 2024
KERIS SETAN KOBER
-------------------------------------------------------------
Pada akhir masa Kerajaan Majapahit hingga Kesultanan Demak, tanah Jawa mempunyai dua empu penempa keris yang kesaktiannya melampaui empu-empu lainnya. Mereka saudara seperguruan: Empu Rahtawu dan Empu Supa Mandragi. Jika Empu Supa Mandragi telah memeluk Islam semenjak menikah dengan Dewi Rasawulan, adik Sunan Kalijaga, Empu Rahtawu tetap bertahan dengan Siwa Buddha. Kesaktian mereka mengundang banyak kesatria besar tanah Jawa untuk memesan keris pusaka pada keduanya. Empu Supa Mandragilah yang mencipta Keris Kyai Nagasasra Sabuk Inten. Empu Rahtawulah yang mencipta Keris Kyai Condong Campur bersama 99 muridnya. Keduanya juga sama-sama berumur panjang, sudah menjadi empu termasyhur semenjak zaman Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, hingga zaman penguasa Demak kedua, Sultan Yunus.
“Sagopa! Siapkan semua sesaji! Aku akan bersamadi! Siapa pun tidak boleh membatalkan samadiku!” titah Empu Rahtawu pada hari itu.
Hari itu Selasa Pahing. Sagopa ingat betul Empu Rahtawu memulai samadinya terhitung tujuh hari sejak tersiar kabar jatuhnya Ndaru Kalabendu, batu meteor yang meledak saat menerobos udara bumi. Batu itu kemudian berubah menjadi logam yang paling dicari para empu pembuat keris-keris sakti.
Saat samadi Empu Rahtawu baru berjalan sehari, datang seorang pangeran dari Kesultanan Demak untuk menemui sang empu. Dia adalah Raden Kikin, putra kedua Sultan Fattah. Raden Kikin ingin dijodohkan oleh Empu Rahtawu dengan keris ampuh sebagai piandel dan pemangku hak warisnya atas takhta Kesultanan Demak. Sebagai adik pertama Sultan Yunus, dia berhak mewarisi takhta Demak bila sewaktu-waktu Sultan Yunus tewas dalam pertempuran melawan Portugis di Semenanjung Malaka yang sedang dipersiapkan besar-besaran.
Ingatan Sagopa terputus lagi saat terbit fajar. Apa yang dia khawatirkan terjadi. Di ufuk timur, matahari mulai menyorotkan sinarnya. Empu Rahtawu belum juga muncul dari dalam danau. Sagopa bingung. Dia termangu mengetahui semua saudara seperguruannya sudah terjun menyelam. Hanya dia yang masih berdiri di anjungan. Tak pelak, akhirnya dia pun menyusul terjun ke danau.
Hari semakin terang. Matahari naik setinggi lembing, namun kabut masih menyelimuti danau dan hutan sekitarnya. Suasana sangat sepi. Sepi yang ganjil. Tak terdengar kicau burung atau suara-suara binatang lain. Ke mana perginya semua penghuni hutan? Hanya terdengar derit dahan dan ranting serta daun-daun yang bergesek saat angin bertiup. Tampaknya semua penghuni hutan telah pergi beberapa hari yang lalu. Sesuatu telah terjadi. Naluri mereka yang tajam menengarai adanya bahaya yang tidak bisa dihindari kecuali dengan pergi jauh-jauh dari danau itu.
Teka-teki itu mulai terjawab saat kabut hilang perlahan. Tampak pemandangan yang mengagetkan. Ribuan bangkai ikan mengapung-apung di pinggir danau. Bau busuk yang menyengat tercium ketika angin bertiup. Di pinggir danau terlihat beberapa pohon tumbang. Tebing di pinggir danau runtuh dan tertutup lumpur. Terlihat bekas-bekas sesuatu yang meluncur sangat cepat, lalu menumbuk danau hingga menimbulkan ledakan yang kuat.
Perahu yang berada di tengah danau bergoyang tertiup angin, tapi tetap tidak bisa melaju ke mana-mana karena ada jangkar yang menahannya. Sudah cukup lama Sagopa dan lima saudara seperguruannya menyelam ke dasar danau untuk mencari guru mereka, namun sampai kini belum muncul juga. Sesaat kemudian, muncul seseorang di sebelah kanan perahu, berjarak kira-kira lima puluh tombak. Apakah dia Sagopa atau salah satu dari lima saudara seperguruannya? Bukan. Dia adalah Empu Rahtawu sendiri. Dia muncul ke permukaan air seperti didorong kekuatan yang sangat besar. Dia membawa segumpal logam hitam sebesar kura-kura dengan satu tangan. Logam hitam itu diletakkan di telapak tangannya. Menilik bentuknya, logam itu pasti berat, namun terlihat ringan di telapak tangan empu berwajah wingit itu.
Beberapa hela napas kemudian, pemandangan yang ajaib terjadi! Empu Rahtawu berdiri tegak di atas permukaan air. Tidak tenggelam. Air di bawah telapak kakinya seperti mengeras. Sejurus kemudian, dia menoleh ke arah perahu yang semalam dia naiki bersama enam muridnya. Raut wajahnya tidak mengesankan sesuatu. Bahkan cenderung dingin. Tak lama kemudian, terjadi keajaiban lagi. Kakinya melangkah di atas permukaan air menuju tepi danau!
Tak lama berselang, Sagopa bersama lima saudara seperguruannya muncul satu demi satu ke permukaan air. Tubuh mereka mengambang dan membengkak seperti ribuan ikan yang mati membusuk. Kulit mereka menghitam, pertanda terkena racun yang mematikan!
--------------------------------------------
Pengarang: S. Trisasongko Hutomo
SC | 14 x 21 cm | 445 hlm.
ISBN: 978-602-6799-08-1