Senin, 08 Juni 2026

Fifiologi KERIS PUTHUT part. 1

KERIS PUTHUT SAJÈN SEBAGAI PURWARUPA AWAL PERKERISAN NUSANTARA

Dalam kajian sejarah seni, perkembangan suatu kebudayaan umumnya melalui tahapan yang panjang. Secara sederhana, ranah seni dapat dibagi ke dalam dua fase besar, yaitu Seni Primitif dan Seni Klasik.

Seni primitif bukan berarti seni yang rendah atau belum berbudaya, melainkan fase awal ketika sebuah gagasan, teknologi, simbol, dan bentuk artistik masih berada dalam tahap dasar. Dari fase inilah kemudian berkembang bentuk-bentuk yang semakin kompleks, matang, dan terstandarisasi, mengacu pada aturan yang ditetapkan oleh kerajaan yang disebut sebagai Seni Klasik.

Secara logika, tidak ada karya cipta manusia yang langsung hadir dalam bentuk sempurna seperti yang dikenal sekarang. Sepeda, mobil, kapal, maupun pesawat terbang selalu diawali oleh bentuk-bentuk percobaan yang lebih sederhana. Purwarupa atau prototipe tersebut sering kali hanya memuat prinsip-prinsip dasar yang kemudian disempurnakan melalui proses panjang perkembangan teknologi dan pengetahuan.

Prinsip yang sama dapat diterapkan pada perkembangan keris Nusantara. Keris-keris klasik yang dikenal pada masa kerajaan-kerajaan besar menunjukkan tingkat penguasaan teknologi tempa, estetika, simbolisme, dan standarisasi yang sangat tinggi. Oleh karena itu, secara logis bentuk yang demikian matang pasti didahului oleh fase-fase perkembangan yang lebih sederhana yang menjadi landasan bagi kemunculan bentuk-bentuk klasik tersebut.

Dalam konteks ini, Keris Puthut Sajèn dapat dipahami sebagai salah satu representasi fase awal atau purwarupa perkerisan Nusantara. Beberapa argumentasi yang mendukung pandangan tersebut adalah sebagai berikut :

 1. Kesederhanaan Bentuk Garap

Keris Puthut Sajèn memperlihatkan bentuk yang relatif sederhana apabila dibandingkan dengan keris-keris klasik. Kesederhanaan bentuk merupakan ciri umum karya seni pada fase awal perkembangan budaya. Pada tahap ini, yang lebih diutamakan adalah gagasan dasar dan fungsi simboliknya, sementara unsur-unsur estetika yang rumit belum berkembang secara penuh.

 2. Dominasi Nilai Simbolik

Pada masa-masa awal peradaban manusia, fungsi simbolik dan spiritual umumnya lebih menonjol daripada aspek dekoratif. Keris Puthut Sajèn memperlihatkan penekanan kuat pada makna kemanunggalan manusia, alam semesta, dan Tuhan sebagaimana tercermin dalam konsep Sa–Aji–An. Dalam fase ini, keris belum semata-mata dipahami sebagai benda seni atau senjata, tetapi sebagai media simbolik yang menghubungkan manusia dengan sumber pengetahuan dan kehidupan.

 3. Teknologi Tempa yang Masih Dasar

Kehadiran keris tanpa Slorok maupun Pamor yang rumit, atau hanya menampilkan jejak-jejak perlengketan material yang kemudian dikenal sebagai pamor sanak, dapat dipahami sebagai fase awal perkembangan teknologi perkerisan. Dari tahap yang sederhana inilah kemudian berkembang berbagai teknik lipatan, penyatuan logam, hingga penciptaan pamor-pamor yang semakin kompleks pada era klasik.

 4. Kedekatan dengan Karakter Artefak Awal Peradaban

Artefak-artefak dari masa awal peradaban manusia umumnya menunjukkan karakter sederhana, fungsional, dan sarat simbolisme. Keris Puthut Sajèn memperlihatkan ciri-ciri yang sejalan dengan karakter tersebut. Bentuknya lebih menampilkan esensi gagasan dibandingkan pencarian keindahan yang bersifat dekoratif. Oleh karena itu, secara tipologis ia lebih dekat dengan tradisi seni awal daripada seni klasik yang telah berkembang matang.

5. Kesinambungan Bentuk

Sebuah purwarupa tidak harus identik dengan bentuk akhirnya. Yang terpenting adalah adanya kesinambungan gagasan, prinsip bentuk, dan teknologi dasar yang terus berkembang dari masa ke masa.

Salah satu petunjuk kesinambungan tersebut dapat dilihat pada konstruksi keris. Pada fase awal, bentuk keris diduga masih bersifat iras, yaitu berbagai unsur pembentuknya menyatu sebagai satu kesatuan. Dalam perkembangan berikutnya, unsur-unsur tersebut mengalami diferensiasi dan pemisahan sehingga lahirlah Ricikan-Ricikan yang lebih kompleks sebagaimana dikenal pada keris klasik.

Meskipun demikian, proses perkembangan tersebut tidak menghilangkan identitas dasarnya. Karakter utama keris Nusantara tetap dipertahankan, seperti condhonglèlèh (kemiringan bilah yang memberi kesan merunduk atau menunduk), bentuk yang asimetris, serta kecenderungan bentuk organik yang berbeda dengan senjata-senjata simetris dari kebudayaan lain. Dengan kata lain, yang berkembang adalah tingkat kerumitan konstruksi dan penggarapan, sedangkan prinsip bentuk dasarnya tetap berkesinambungan.

Fenomena ini lazim ditemukan dalam sejarah perkembangan seni dan teknologi. Bentuk awal yang sederhana tidak hilang, melainkan menjadi fondasi yang terus diwariskan dan disempurnakan dalam bentuk-bentuk berikutnya. Sebagaimana purwarupa pesawat terbang tidak sama dengan pesawat modern tetapi tetap memperlihatkan prinsip-prinsip dasarnya, demikian pula Keris Puthut Sajèn dapat dipahami sebagai bentuk awal yang menjadi landasan lahirnya tradisi perkerisan klasik Nusantara.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, Keris Puthut Sajèn layak dipandang sebagai representasi fase seni primitif perkerisan Nusantara, yaitu sebuah purwarupa yang memuat gagasan dasar, prinsip bentuk, simbolisme, dan teknologi awal yang kemudian berkembang menjadi berbagai bentuk keris klasik yang dikenal hingga sekarang. Keris klasik bukanlah kemunculan yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil dari proses evolusi budaya yang panjang, dan jejak-jejak awal proses tersebut masih dapat dibaca pada Keris Puthut Sajèn.

Tulisan ini menempatkan Keris Puthut Sajèn bukan sebagai "keris yang belum sempurna", melainkan sebagai bentuk awal yang mengandung prinsip-prinsip dasar perkerisan Nusantara yang kemudian berkembang menjadi tradisi keris klasik.


Rahayu....rahayu....rahayu...


R. Adi Sulistyo 

Krt. Cahya Setyonagoro


Tidak ada komentar:

Posting Komentar