KERIS PUTHUT SAJÈN SEBAGAI PURWARUPA AWAL PERKERISAN NUSANTARA
Dalam
kajian sejarah seni, perkembangan suatu kebudayaan umumnya melalui tahapan yang
panjang. Secara sederhana, ranah seni dapat dibagi ke dalam dua fase besar,
yaitu Seni Primitif dan Seni Klasik.
Seni
primitif bukan berarti seni yang rendah atau belum berbudaya, melainkan fase
awal ketika sebuah gagasan, teknologi, simbol, dan bentuk artistik masih berada
dalam tahap dasar. Dari fase inilah kemudian berkembang bentuk-bentuk yang
semakin kompleks, matang, dan terstandarisasi, mengacu pada aturan yang
ditetapkan oleh kerajaan yang disebut sebagai Seni Klasik.
Secara logika, tidak ada karya cipta manusia yang langsung hadir dalam bentuk sempurna seperti yang dikenal sekarang. Sepeda, mobil, kapal, maupun pesawat terbang selalu diawali oleh bentuk-bentuk percobaan yang lebih sederhana. Purwarupa atau prototipe tersebut sering kali hanya memuat prinsip-prinsip dasar yang kemudian disempurnakan melalui proses panjang perkembangan teknologi dan pengetahuan.
Prinsip
yang sama dapat diterapkan pada perkembangan keris Nusantara. Keris-keris
klasik yang dikenal pada masa kerajaan-kerajaan besar menunjukkan tingkat
penguasaan teknologi tempa, estetika, simbolisme, dan standarisasi yang sangat
tinggi. Oleh karena itu, secara logis bentuk yang demikian matang pasti
didahului oleh fase-fase perkembangan yang lebih sederhana yang menjadi
landasan bagi kemunculan bentuk-bentuk klasik tersebut.
Dalam
konteks ini, Keris Puthut Sajèn dapat dipahami sebagai salah satu representasi
fase awal atau purwarupa perkerisan Nusantara. Beberapa argumentasi yang
mendukung pandangan tersebut adalah sebagai berikut :
Keris Puthut Sajèn
memperlihatkan bentuk yang relatif sederhana apabila dibandingkan dengan
keris-keris klasik. Kesederhanaan bentuk merupakan ciri umum karya seni pada
fase awal perkembangan budaya. Pada tahap ini, yang lebih diutamakan adalah
gagasan dasar dan fungsi simboliknya, sementara unsur-unsur estetika yang rumit
belum berkembang secara penuh.
Pada masa-masa awal
peradaban manusia, fungsi simbolik dan spiritual umumnya lebih menonjol
daripada aspek dekoratif. Keris Puthut Sajèn memperlihatkan penekanan kuat pada
makna kemanunggalan manusia, alam semesta, dan Tuhan sebagaimana tercermin
dalam konsep Sa–Aji–An. Dalam fase ini, keris belum semata-mata dipahami
sebagai benda seni atau senjata, tetapi sebagai media simbolik yang
menghubungkan manusia dengan sumber pengetahuan dan kehidupan.
Kehadiran keris tanpa
Slorok maupun Pamor yang rumit, atau hanya menampilkan jejak-jejak perlengketan
material yang kemudian dikenal sebagai pamor sanak, dapat dipahami sebagai fase
awal perkembangan teknologi perkerisan. Dari tahap yang sederhana inilah
kemudian berkembang berbagai teknik lipatan, penyatuan logam, hingga penciptaan
pamor-pamor yang semakin kompleks pada era klasik.
Artefak-artefak dari masa awal peradaban manusia umumnya menunjukkan karakter sederhana, fungsional, dan sarat simbolisme. Keris Puthut Sajèn memperlihatkan ciri-ciri yang sejalan dengan karakter tersebut. Bentuknya lebih menampilkan esensi gagasan dibandingkan pencarian keindahan yang bersifat dekoratif. Oleh karena itu, secara tipologis ia lebih dekat dengan tradisi seni awal daripada seni klasik yang telah berkembang matang.
5. Kesinambungan Bentuk
Sebuah purwarupa tidak
harus identik dengan bentuk akhirnya. Yang terpenting adalah adanya
kesinambungan gagasan, prinsip bentuk, dan teknologi dasar yang terus
berkembang dari masa ke masa.
Salah satu petunjuk
kesinambungan tersebut dapat dilihat pada konstruksi keris. Pada fase awal,
bentuk keris diduga masih bersifat iras, yaitu berbagai unsur pembentuknya
menyatu sebagai satu kesatuan. Dalam perkembangan berikutnya, unsur-unsur
tersebut mengalami diferensiasi dan pemisahan sehingga lahirlah Ricikan-Ricikan
yang lebih kompleks sebagaimana dikenal pada keris klasik.
Meskipun demikian, proses perkembangan tersebut tidak menghilangkan identitas dasarnya. Karakter utama keris Nusantara tetap dipertahankan, seperti condhonglèlèh (kemiringan bilah yang memberi kesan merunduk atau menunduk), bentuk yang asimetris, serta kecenderungan bentuk organik yang berbeda dengan senjata-senjata simetris dari kebudayaan lain. Dengan kata lain, yang berkembang adalah tingkat kerumitan konstruksi dan penggarapan, sedangkan prinsip bentuk dasarnya tetap berkesinambungan.
Fenomena ini lazim ditemukan dalam sejarah perkembangan seni dan teknologi. Bentuk awal yang sederhana tidak hilang, melainkan menjadi fondasi yang terus diwariskan dan disempurnakan dalam bentuk-bentuk berikutnya. Sebagaimana purwarupa pesawat terbang tidak sama dengan pesawat modern tetapi tetap memperlihatkan prinsip-prinsip dasarnya, demikian pula Keris Puthut Sajèn dapat dipahami sebagai bentuk awal yang menjadi landasan lahirnya tradisi perkerisan klasik Nusantara.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, Keris Puthut Sajèn layak dipandang sebagai representasi fase seni primitif perkerisan Nusantara, yaitu sebuah purwarupa yang memuat gagasan dasar, prinsip bentuk, simbolisme, dan teknologi awal yang kemudian berkembang menjadi berbagai bentuk keris klasik yang dikenal hingga sekarang. Keris klasik bukanlah kemunculan yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil dari proses evolusi budaya yang panjang, dan jejak-jejak awal proses tersebut masih dapat dibaca pada Keris Puthut Sajèn.
Tulisan ini menempatkan
Keris Puthut Sajèn bukan sebagai "keris yang belum sempurna",
melainkan sebagai bentuk awal yang mengandung prinsip-prinsip dasar perkerisan
Nusantara yang kemudian berkembang menjadi tradisi keris klasik.
Rahayu....rahayu....rahayu...
R. Adi Sulistyo
Krt. Cahya Setyonagoro