Kamis, 30 Juni 2022

PAMOR

 Pamor Pada Keris dan Tosan Aji Nusantara 

Pamor adalah gambar-gambar yang terdapat pada bilah keris. Pamor pada keris ada yang timbul dengan sengaja karena proses campuran bahan sehingga membentuk guratan-guratan gambar pada bilah, maupun ada yang disengaja oleh seorang empu pembuat keris, misalnya dengan memahat bilah untuk memperoleh gambar atau lukisan yang diinginkan. Setiap keris mempunyai pamor yang berbeda-beda dan pamor ini dipercaya mempunyai daya magis bagi pemiliknya. 

Nama-nama pamor keris menurut Ngabei Jayasukadga abdi dalem pembuat keris tahun 1830 yaitu:

Iris-irisan pandhan, Udan mas, Adeg kurung, Adeg sapu, Ujung, Ujung gunung, Ombak banyu, Roning siwalan, Rondhuru kenanga ginubah, Kembang anggrek, Kembang krambil, Kembang lampes, Kembang pudhak, Kembang bakung, Tikel balung, Tambal, Tiga warna, Sanak, Saton, Walang sinundukan, Lintang kumukus, Lar kupu, Lar manuk, Lar gangsir, Lungsungan ula, Maskumambang, Benang satukel, Bendha sagada, Beras wutah, Blarak ngirid, dan Babakan dalingsem 

(Wirapustaka, 2682: 1454). 


Nama-nama pamor menurut Almanak A. Rusche ada bermacam-macam, yaitu:

 Udanmas, adeg telu, adeg sapu, ujung gunung, ombak mas, ombak banyu, rondhuru, kenanga ginubah, kembang lampes, kembang pala, kembang blimbing, tumbal, tiga warna, sulur waringin, wengkon, lawe satukel, pandhan binethot, palang sinundukan, pudhak sategal, bendha sagada, beras wutah, batu lapak, dan blarak ngirit 

(Rusche, 1907: 20)



Gambar; Pamor Pada Bilah Tosan Aji Karya RT. Cahya Surya Harsakya M.Sn. 


Senin, 13 Juni 2022

PISAU WEDUNG ( Tosan Aji )

 TOSAN AJI DAPUR WEDUNG ( PISAU WEDUNG )

Knife (Wedong) with Sheath


WEDUNG dan Sejarah Islam di Pesisir Utara Jawa.

Wedhung adalah senjata tajam alat tebas seperti pisau lebar. Kata `wedhung' menurut kamus bahasa Jawa "Bausastra" (S. Prawiroatmodjo; 1957, Penerbit Gunung Agung) artinya senjata seperti pisau raut berukuran besar dan bersarung, termasuk sebagai atribut pakaian kebesaran pegawai istana. Di sebelah selatan sentral kerajaan Demak, hingga sekarang bisa dijumpai desa Wedung, merupakan tempat dimana para empu keris menggarap wedhung.

Wedhung dibuat dengan gusen indah dan ricikan. Kebutuhan seni, merubah wedhung yang sebelumnya berbentuk sederhana dan berfungsi sebagai senjata tebas (situasi kacau pada saat itu) mulai bergeser menjadi benda seni, di "agung" kan seperti pada nilai budaya keris.

Wedhung mulai digarap empu dengan teknik pelipatan besi dan lapisan dari bahan meteor yang disebut pamor. Motif pamor yang sering ditemukan adalah motif pamor beras utah dan wiji timun. Sebelumnya motif wiji timun dikenal dengan nama `ombak segoro' karena coraknya seperti penggambaran riak gelombang air laut yang susul-menyusul di pantai.

Wedhung berpamor wiji timun hanya boleh dimiliki oleh petinggi-petinggi di pantai utara Jawa pada waktu itu. Indikasi bahwa wedhung berkembang di pesisir pantai utara Jawa adalah asesori warangkanya yang indah dengan tangkai dari bahan `penyu'. (wedhung yang ditemukan di pesisiran). Pada jaman berikutnya bahan dari penyu diganti dengan tanduk kerbau.

Masyarakat sepanjang pantai utara Cireboh - Gresik, ikut bergerak menjadi pengikut Sunan Giri jika terjadi perlawanan fisik melawan prajurit Girindrawardhana (Majapahit). Mereka bersenjata pedang dan menyelipkan wedhung (bukan keris) pada ikat pinggangnya sebagai identitas prajurit elite pesisiran.  

Wedung in History
#keraton Demak sedang menata sistem pemerintahannya, maka rakyat mepersenjatai diri. Zaman itu, senjata yang populer adalah #wedung – senjata tebas yang mirip dengan golok cacah berujung runcing. Dalam bukunya The History of Java, Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Inggris yang berkuasa pada 1811-1816, menyebut, "
"bahwa seseorang yang akan menghadap pangeran, apapun pangkat dan gelarnya, harus mengenakan celana dari sutera atau kain halus tanpa kancing dan sebagai pengganti kain atau jarit, dia harus memakai dodot, yaitu kain lebar yang ……..Dia hanya membawa satu keris yang ditempatkan di punggung kanan belakang, dimana pada sisi kirinya membawa WEDUNG…."Dia mengenakan kuluk yang mulai dieperkenalkan oleh Sultan Pajang.


Pusaka Wedung Pisau Kuno
Pusaka Wedung Pisau kuno adalah jenis senjata yang terbuat dari bahan material seperti halnya keris, kadang ditemukan dengan logam pamor dan ada yang keleng atau polosan.
Kegunaan wedung sendiri dahulu dipakai dikalangan keraton dalem, para penjaga kaputren dan bahkan para putri raja sendiri.
Bentuk wedung seperti halnya pisau namun agak besar, seperti pedang namun lebih lebar dan lebih pendek sehingga mudah dibawa oleh penjaga maupun para putri dalem keraton.

Wedung Sebagai Ageman Petinggi Kerajaan
WIDENG WEDUNG
Bentuk wedung seperti pisau pendek. Ujungnya runcing, sisi depannya tajam, sedangkan punggungnya tumpul. Panjang bilah wedung sekitar 26 cm, lebarnya sekitar 7 cm. Pada sisi depan bagian bawah ada bagian yang bentuknya indah, sedangkan pangkal yang menghadap ke hulu dibentuk mirip bentuk greneng keris. Seperti keris dan tombak, hampir semua wedung berpamor. Bahkan beberapa dihias pula dengan sinarasah emas.
(Bambang Harsrinuksmo, Ensiklopedi Keris).



"Wedung memang senjata yang sangat populer di Pantai Utara Jawa.  Masyarakat sepanjang pantai utara dari Cirebon hingga Gresik, ikut bergerak menjadi pengikut Sunan Giri ketika berperang melawan tentara Prabu Girindrawardhana dari Majapahit. Mereka bersenjata pedang dan menyelipkan wedung pada ikat pinggangnya sebagai identitas prajurit elite pesisiran.
wedung juga dijadikan pelengkap baju kebesaran para bangsawan kerajaan Demak".
( Catatan Kraton Mataram, terjemahan Sanapustoko, KRA Curigohadinagoro, 1998)  


Wedung Sebagai Perintah Daulat Raja
Fungsi lain wedung adalah sebagai simbol perintah raja. pada umumnya wedung yang digunakan untuk perintah raja tidak memiliki pamor ( kelengan ; malela hitam kendaga ). biasnya dibawa oleh para panglima prajurit ataupun kepala pasukan untuk mengeksekusi hasil dari Sabda Pandita Ratu.
Misal nya menangkap para penjahat perang ataupun penghianat kerajaan. dengan menunjukkan wedung tersebut ( berfungsi seperti surat perintah kerajaan ).




Bagian - bagian Wedung / Wedong , menurut RT. Cahyo Suryodipuro Sontodjojowinoto, 2010

The Kris Supreme in Javanese Culture

Keris or suspicious, kadga, suduk, wangkingan, dhuwung are made by a
blacksmith called an empu. Overall, the keris and its warangka will show a
harmonious unity between sculpture, carving and sculpture. This research will
discuss the aesthetic value of a keris which includes parts of the keris, dhapur,
pamor and tough. Research on the fairness of the keris in Javanese culture is
descriptive in nature. In this research, the data are in the form of Javanese
diction which is related to keris.

The data sources are Javanese manuscripts
containing kris, namely Latin Centhini Fibers, Bauwarna Padmasusastra Fiber,
Kawruh Jejeran, Mranggi Crafts, Dhuwung Wesi Aji, and Kajawen. The collection
technique uses content analysis and library techniques. Data analysis techniques
through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results
showed that apart from having a high artistic element, keris is also believed to
have magical power. Keris in its development has gone through a very long
period of time since before the Pajajaran kingdom, the Pajajaran era, the
Majapahit era, the Demak Pajang era, the Mataram era to the days of Surakarta
and Yogyakarta.

Kamis, 09 Juni 2022

D4 Senjata Tradisional Keris

 


KeRISOLOGI 


D4 Senjata Tradisional Keris
#keris
#D4 Senjata Tradisional Keris
Senjata Tradisional #Keris merupakan unit pelaksana formal yang berada dibawah naungan Jurusan #Kriya – Fakultas Seni Rupa dan #Desain Institut Seni Indonesia Surakarta. Penyelenggaraan Prodi didasarkan atas Keputusan #Menteri #Pendidikan dan #Kebudayaan No. 147/E/O/2012.
Fokus pada penciptaan #seni keris dan #senjata #tradisional beserta kajian estetik maupun filosofisnya. Landasan yang digunakan adalah nilai-nilai luhur biudaya bangsa #Indonesia, dengan disertai wawasan terhadap dinamika zaman. Lulusan program studi #Keris dan Senjata Tradisional bergelar “#Sarjana Terapan Seni (S. Tr. Sn.)”

#isisolo #isisurakarta #traditionalweapons #metalurgi #etnic #culture #heirloom #history

Program studi diploma IV Keris dan Senjata Tradisional merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang berada di bawah naungan Jurusan Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Surakarta. Program studi ini memfokuskan diri pada ranah kajian serta penciptaan seni keris dan senjata tradisional. Landasan yang digunakan dalam proses pendidikan adalah nilai-nilai luhur budaya bangsaIndonesia, dengan disertai wawasan terhadap dinamika zaman.

Sebagai program studi diploma IV, maka proporsi materi praktikum yang diajarkan lebih banyak dibandingkan teori. Jumlah sks yang ditempuh setara dengan program studi Strata-1. Dengan demikian, maka lulusan program studi D-IV Keris dan Senjata Tradisional Institut Seni Indonesia Surakarta bergelar Sarjana Sains Terapan (SST).



 https://www.youtube.com/watch?app=desktop&v=GwihglCKB0M&feature=youtu.be

.

Rabu, 06 April 2022

Bissu Bugis in Celebes Island.


Banyak Ritual yang ada di Pulau Sulawesi. Beberapa bentuk ritual yang kerap dilaksanakan oleh para Bissu, antara lain maggiri (kebal senjata tajam), massulo/sulo wara (bakar diri), sere wara (berjalan di atas api), dan mattompang arajang (mencuci benda-benda pusaka kerajaan). Setiap ritual tersebut memiliki makna yang sangat mendalam, seperti pernyataan sikap bahwa sebenarnya antara manusia dengan besi, api, dan alam adalah satu (menyatu).

(Indarwati, I., Mariana, L., & Rachman, S. (2019). Ritual Para Bissu, Para Waria Sakti di Kabupaten Bone. Jurnal Idiomatik, 2(1), 15-23 )







Senin, 14 Maret 2022

Tutorial membuat keris Sekolah Menempa ada empu wanita #forgingdinger

Pemenpa Pusaka Dekade Modern ini

Pada tahun 2008, UNESCO mengakui keris sebagai warisan budaya dunia yang harus dilestarikan untuk kategori tak benda, Intangible Cultural Heritage (ICH).

Menurut Koordinator Divisi Sastra, Folklor, Permainan Dedaktik Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU, Donny Satryowibowo, keris tidak hanya dilihat dari segi wujudnya sebagai senjata. Namun, dalam proses penempaannya memerlukan teknik-teknik khusus serta sarat nilai yang mengandung unsur-unsur budaya. Termasuk estetika dan filosofis.

Seperti Halnya di Damascus yang terkenal akan seni keindahan Pamornya di Indonesia sendiri juga banyak disanjung Negara - negara luar akan teknik tempa nya dan beragam macam jenis tosan aji yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. 

Keindahan Seni dan budaya tersebut harus terus diperjuangkan agar lestari termasuk dalam keanekaragaman senjata tradisional Indonesia. 



Senin, 18 Oktober 2021

EMPU Keris Nusantara dalam Narasi

 MPU KERIS / EMPU KERIS / PANRE PUSAKA 

  1. Istilah Empu gelar kehormatan yang berarti "tuan";orang yang sangat ahli (terutama ahli membuat keris)

Empu merupakan julukan bagi para pembuat keris, senjata legendaris di tanah Jawa. Tak sembarang orang bisa menjadi seorang Empu. Hanya mereka yang berpengalaman dan memiliki ilmu tentang seluk beluk keris. 
Proses pembuatan keris di Indonesia dari tanah Jawa, Bali, Sumatera , Sulawesi , sampai berbagai pelosok Nusantara memiliki ciri khas yang berbeda. Akan tetapi, proses pembuatan dasarnya hampir mirip. Di awali dengan upacara Slametan agar keris yang dihasilkan lebih berkualitas. Dalam upacara Slametan disiapkan tumpeng, gudangan, ayam, buah, lauk-pauk, dan aneka macam bunga untuk mengiringi setiap doa yang dipanjatkan. 


Sulistyo Joko Suryono , Merupakan salah satu Empu di Kota Surakarta. 


Bilah besi mulai dipanaskan hingga berpijar dan dipanaskan berulang-ulang. Inilah kegiatan rutinan para Empu di dusun Banaran, Ngringo, Jaten, Karanganyar yang sampai sekarang masih tetap lestari. Bilah besi yang sudah dipanaskan berulang dan siap dibersihkan, mulai dilipat seperti huruf U serta disisipkan lempengan pamor dari batu meteorit di dalamnya. 
Awal mula kemunculan keris yang menyebar dari tanah Jawa sampai ke kawasan Asia Tenggara adalah dari abad ke-10 Masehi. Meski sebenarnya, secara prototipe keris sudah ada dan ditemukan di beberapa bangunan candi di Indonesia. Di Candi Prambanan pada abad ke-9 dan Candi Borobudur pada abad ke-8. Bentuk keris yang ditemukan pada masa itu berbeda dengan keris hasil lestarian penduduk pada abad ke-10 sampai sekarang. 
Dalam proposal Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage and Humanity oleh UNESCO pada 2004 dijelaskan secara prinsipil memiliki fungsi sebagai tradisi, fungsi sosial, seni, filosofi, dan mistis. UNESCO mencatat ada 120 varian keris di Indonesia. Bila bicara kerumitan maknawi keris, simboliknya lebih mengarah pada fenomena budaya Jawa. 




Cahya Surya Harsakya, ketika Menempa bilah Tosan Aji. 

Logam dasar yang digunakan dalam pembuatan keris ada dua macam logam adalah logam besi dan logam pamor, sedangkan pesi keris terbuat dari baja. Untuk membuatnya ringan para Empu selalu memadukan bahan dasar ini dengan logam lain. Keris masa kini (nèm-nèman, dibuat sejak abad ke-20) biasanya memakai logam pamor nikel. Keris masa lalu (keris kuna) yang baik memiliki logam pamor dari batu meteorit yang diketahui memiliki kandungan titanium yang tinggi, di samping nikel, kobal, perak, timah putih, kromium, antimonium, dan tembaga. Batu meteorit yang terkenal adalah meteorit Prambanan, yang pernah jatuh pada abad ke-19 di kompleks percandian Prambanan.
Pembuatan keris bervariasi dari satu empu ke empu lainnya, tetapi terdapat prosedur yang biasanya bermiripan. Berikut adalah proses secara ringkas menurut salah satu pustaka.[23] Bilah besi sebagai bahan dasar diwasuh atau dipanaskan hingga berpijar lalu ditempa berulang-ulang untuk membuang pengotor (misalnya karbon serta berbagai oksida). Setelah bersih, bilah dilipat seperti huruf U untuk disisipkan lempengan bahan pamor di dalamnya. Selanjutnya lipatan ini kembali dipanaskan dan ditempa. Setelah menempel dan memanjang, campuran ini dilipat dan ditempa kembali berulang-ulang. Cara, kekuatan, dan posisi menempa, serta banyaknya lipatan akan memengaruhi pamor yang muncul nantinya. Proses ini disebut saton. Bentuk akhirnya adalah lempengan memanjang. Lempengan ini lalu dipotong menjadi dua bagian, disebut kodhokan. Satu lempengan baja lalu ditempatkan di antara kedua kodhokan seperti roti sandwich, diikat lalu dipijarkan dan ditempa untuk menyatukan. Ujung kodhokan lalu dibuat agak memanjang untuk dipotong dan dijadikan ganja. Tahap berikutnya adalah membentuk pesi, bengkek (calon gandhik), dan terakhir membentuk bilah apakah berluk atau lurus. Pembuatan luk dilakukan dengan pemanasan.

Tahap selanjutnya adalah pembuatan ornamen-ornamen (ricikan) dengan menggarap bagian-bagian tertentu menggunakan kikir, gerinda, serta bor, sesuai dengan dhapur keris yang akan dibuat. Silak waja dilakukan dengan mengikir bilah untuk melihat pamor yang terbentuk. Ganja dibuat mengikuti bagian dasar bilah. Ukuran lubang disesuaikan dengan diameter pesi.

Tahap terakhir, yaitu penyepuhan, dilakukan agar logam keris menjadi logam besi baja. Pada keris Filipina tidak dilakukan proses ini. Penyepuhan ("menuakan logam") dilakukan dengan memasukkan bilah ke dalam campuran belerang, garam, dan perasan jeruk nipis (disebut kamalan). Penyepuhan juga dapat dilakukan dengan memijarkan keris lalu dicelupkan ke dalam cairan (air, air garam, atau minyak kelapa, tergantung pengalaman Empu yang membuat). Tindakan penyepuhan harus dilakukan dengan hati-hati karena bila salah dapat membuat bilah keris retak.

Selain cara Penyepuhan yang lazim seperti diatas dalam penyepuhan Keris dikenal pula Sepuh jilat yaitu pada saat logam Keris membara diambil dan dijilati dengan lidah, Sepuh Akep yaitu pada saat logam Keris membara diambil dan dikulum dengan bibir beberapa kali . 

 

.. setiap laki-laki di Jawa, tidak peduli kaya atau miskin, harus memiliki sebilah keris di rumahnya ... dan tidak ada satu pun laki-laki berusia antara 12 dan 80 tahun bepergian tanpa sebilah keris di sabuknya. Keris diletakkan di punggung, seperti belati di Portugal...

— Tome Pires, "Suma Oriental"


. . Orang-orang ini [Majapahit] selalu mengenakan pu-la-t'ou (belati? atau beladau?)yang diselipkan pada ikat pinggang. [...], yang terbuat dari baja, dengan pola yang rumit dan bergaris-garis halus pada daunnya; hulunya terbuat dari emas, cula, atau gading yang diukir berbentuk manusia atau wajah raksasa dengan garapan yang sangat halus dan rajin.

— Ma Huan, "Ying-yai Sheng-lan Fai"


...Senjata sang prabu ialah: pedang, abet (pecut), pamuk, golok, peso teundeut, keris. Raksasa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk membunuh...

— Sanghyang siksakanda ng karesian, Pupuh XVII









Jumat, 27 Agustus 2021

Tenun Goyor Sambirembe, Sragen.

Tenun Goyor Sambirembe , Kabupaten Sragen 







Kerajinan tenun Goyor ATBM di dukuh Wonosari, Desa Sambirembe Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen sudah ada sejak tahun 1960-an. Pada saat itu kerajinan tenun goyor masih sedikit pengrajinnya hanya ada beberapa keluarga yang membuat kerajinan tersebut. Kerajinan tenun goyor pada saat itu hanya di pasarkan atau di jual dalam sekala kecil yaitu di jual di pasar-pasar tradisional di sekitar desa.Ada juga beberapa keluarga yang hanya menjadi buruh tenun oleh juragan Solo pada saat itu.

Pola atau gambar yang digunakan bermotif bunga kembang dengan susunan tetris atau berbalok-balok. Sarung ini juga mempunyai kelenturan tersendiri dan tidak mudah kusut sehingga masyarakat menyebutnya sebagai sarung goyor. Alat produksi sarung goyor dikerjakan menggunakan tenun tradisional ATBM yang sering disebut juga dengan tenun tok-klek karena bunyi-bunyian yang dihasilkan. Bahan bakunya menggunakan benang rayon yang diimpor dari Cina dan India dengan ketebalan 602 dan 402. Desa Sambirembe saat ini terdapat banyak orang pengrajin yang bekerja secara mandiri dengan ATBM yang beroperasi. Kondisi ini masih jauh lebih baik dibandingkan pada masa kejayaan sarung goyor yaitu saat terjadinya krisis moneter sekitar tahun 1995 – 1999.

https://www.youtube.com/watch?v=QEWIxKaA9Po&t=67s