Jumat, 06 Desember 2024

Fungsi Condong Leleh Keris

 Fungsi Condong Leleh  Keris

Condong Leleh pada keris tidak sekedar menunjukan sudut kemiringan bilah, tetapi juga memiliki fungsi tertentu, yaitu fungsi teknis, estetika dan makna simbolis

  • Fungsi teknis sebagai ketajaman bilah keris, penanda dan kedudukan keris
  • Fungsi Estetika bagian keindahan keris
  • Fungsi  makna simbolis yg terinspirasi dan dimuncul dari watak, karakter, cara pandang dan  sikap  manusia.

Sikap tersebut dapat kita liat dalam visualisasi karakter wayang...dgn posisi kepala yg menunjukan karakter dan makna simbolis yg berbeda beda.

Seperti posisi

  • Tegak Suryo matahari, bermakna berwibawa, Wisesa dan kekuasaan
  • Agak menunduk, Candra Bulan bermakna, waspada atau waskitha dan bijaksana
  • Menunduk lagi Kartika bintang, makna jarak pandang melihat bintang, perhatian, menarik hati,  popularitas, untuk menjadi bintang.
  • Sangat menunduk Buwono bumi,  bermakna pandangan ke arah  bumi, bermakna karejeken, rejeki jatuh ke bumi, memberi sikap yg merendah seperti padi berisi. 

Fungsi dan Makna condong leleh keris merupakan satu kesatuan fungsi teknis, estetika dan simbolis, yg memiliki rasa dan karakter tertentu, yg memberikan pengaruh dan membangkitkan spirit bagi pemiliknya.

Biasanya seorang Mpu akan membuat condong leleh keris,  akan di padu dgn pamor yg sesuai dgn tujuan dan makna simbolis.

Seperti : 

  1. Keris utk kewibawaan biasanya  Condong Leleh Suryo dgn pamor Blarak Sineret 
  2. Pamor Udan emas  Condong Leleh Buwono 
  3. Pamor Sekar  atau Ron Genduru Condong Leleh Kartiko 
  4. Pamor Adeg Condong Leleh Candra


Pendahuluan

Keris merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang sarat dengan nilai filosofis, estetika, dan spiritual. Dalam proses pembuatannya, setiap elemen pada keris dirancang dengan tujuan tertentu, baik dari segi fungsi maupun simbolisme. Salah satu bagian penting dari keris adalah condong leleh, yaitu bagian lekukan kecil yang terdapat pada bagian bawah bilah keris, tepat di dekat ganja. Elemen ini sering kali menjadi perhatian para penggemar dan peneliti keris karena perannya yang tidak hanya estetis tetapi juga fungsional.

Dalam budaya Nusantara, keris tidak hanya dianggap sebagai senjata tradisional, tetapi juga sebagai simbol status sosial, spiritualitas, dan kekuatan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap setiap elemen keris, termasuk condong leleh, menjadi bagian integral dalam mengapresiasi keindahan dan makna di balik keris itu sendiri.


Deskripsi dan Fungsi Condong Leleh

Condong leleh merupakan lekukan kecil yang terdapat di area bilah keris di dekat ganja. Fungsi utamanya dapat dibagi menjadi dua aspek utama:

  1. Fungsi Struktural
    Condong leleh membantu menjaga keseimbangan dan kekuatan struktur keris. Dengan adanya lekukan ini, tekanan yang diterima bilah keris saat digunakan dapat terdistribusi lebih merata, sehingga mengurangi risiko patah atau retak pada bilah.

  2. Fungsi Estetika dan Filosofis
    Dalam estetika keris, condong leleh menambah harmoni visual pada desain keseluruhan. Lekukan ini sering dianggap sebagai simbol keharmonisan dan kesinambungan. Secara filosofis, condong leleh melambangkan keluwesan atau kerendahan hati, mencerminkan nilai-nilai yang dihormati dalam budaya Jawa.

Sebagai bagian dari keris, condong leleh menunjukkan bagaimana seni dan fungsi berpadu dalam menciptakan karya yang tidak hanya indah tetapi juga bermakna. Elemen ini mengingatkan bahwa setiap detail dalam keris memiliki makna mendalam yang mencerminkan kearifan lokal Nusantara.

Bagian-Bagian Condong Leleh pada Keris dan Maknanya

Condong leleh adalah salah satu elemen kecil tetapi signifikan pada bilah keris. Bagian ini memiliki komponen-komponen yang dapat diuraikan secara rinci, masing-masing memiliki fungsi dan makna tertentu dalam estetika serta filosofi keris. Berikut adalah deskripsi bagian-bagiannya:

1. Lekukan Utama (Alur Condong Leleh)

  • Deskripsi:
    Lekukan utama ini berbentuk seperti garis melengkung yang dimulai dari ujung bawah bilah keris, tepat di atas ganja, mengarah sedikit ke atas sebelum menyatu dengan bagian bilah.
  • Makna:
    Melambangkan keluwesan dan harmoni. Filosofinya terkait dengan sifat fleksibel dan adaptif yang diperlukan dalam menjalani kehidupan, sejalan dengan nilai-nilai budaya Jawa yang menekankan kebijaksanaan dalam bertindak.

2. Pangkal Condong Leleh

  • Deskripsi:
    Merupakan titik awal lekukan, terletak sangat dekat dengan pejetan atau bagian bawah bilah. Pangkal ini sering terlihat sebagai titik yang mengarahkan pola aliran lekukan.
  • Makna:
    Melambangkan awal perjalanan hidup atau suatu proses. Filosofinya menunjukkan bahwa semua hal besar dimulai dari sesuatu yang kecil, menekankan pentingnya memulai dengan niat baik.

3. Lengkung (Kelokan Halus)

  • Deskripsi:
    Lengkungan yang membentuk kurva kecil pada condong leleh sering kali dibuat dengan sangat halus, menciptakan tampilan harmonis.
  • Makna:
    Menunjukkan perjalanan hidup yang tidak selalu lurus, penuh liku-liku dan tantangan. Filosofinya mengajarkan kesabaran dan kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai rintangan.

4. Sambungan ke Bilah

  • Deskripsi:
    Bagian di mana condong leleh menyatu secara alami dengan bilah keris. Sambungan ini biasanya dibuat tanpa garis tegas, memberikan kesan transisi yang halus.
  • Makna:
    Melambangkan penyatuan elemen kehidupan—antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Filosofinya menekankan harmoni antara duniawi dan spiritual.

5. Hubungan dengan Ganja

  • Deskripsi:
    Condong leleh selalu berdekatan dengan ganja, bagian bawah keris yang sering dianggap sebagai "pondasi" dari keris itu sendiri. Hubungan ini mencerminkan keseimbangan dan dukungan struktural yang diberikan oleh ganja.
  • Makna:
    Menunjukkan pentingnya dasar yang kuat dalam kehidupan, baik secara spiritual maupun fisik. Ganja dan condong leleh bersama-sama melambangkan hubungan antara manusia dengan landasan moral dan spiritualnya.

Penutup

Setiap bagian condong leleh tidak hanya dirancang untuk fungsi mekanis, tetapi juga memiliki nilai estetika dan filosofi yang mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa keris adalah simbol kearifan lokal yang menggabungkan seni, spiritualitas, dan tradisi secara harmonis.

KRT. Cahya Surya Setyonagoro 



Kamis, 05 Desember 2024

Misteri Arca-Arca Kuno

 “Misteri Arca-Arca Kuno Ciampea: Jejak Masa Silam di Bogor”

Di lereng-lereng Pasir Sinala yang kini dikenal sebagai Ciampea, Bogor, peninggalan masa lampau tersimpan dalam bentuk arca-arca penuh teka-teki. Karya-karya pahatan ini, yang sebagian besar ditemukan antara abad ke-8 hingga ke-13 Masehi, mengundang pertanyaan besar: 

Telah telusuri beberapa arca yang sempat terdokumentasikan oleh fotografer legendaris Isidore van Kinsbergen pada tahun 1876.

1. Arca Ciampea Bogor

Arca ini menggambarkan sosok misterius, mungkin seorang raksasa. Berasal dari Tjampea, Bogor, arca ini menjadi salah satu bukti arkeologis yang memicu berbagai spekulasi. Arca ini sempat diabadikan oleh Isidore van Kinsbergen dan dideskripsikan dalam karya Bernet Kempers pada tahun 1959.

2. Arca Gajah dari Ciampea

Arca ini adalah sosok gajah yang diperkirakan berasal dari abad ke-8 hingga ke-13 M. Menurut catatan, patung ini digunakan sebagai nisan seorang pemuda yang gugur dalam pemberontakan. Lokasi penemuan di Kebon Koppi, Ciampea, Bogor, menghubungkan arca ini dengan tradisi lokal yang kaya akan simbolisme.

3. Arca Tanpa Kepala

Dijuluki sebagai “Headless Ascetic”, arca ini ditemukan di puncak Pasir Sinala. Meski kepala aslinya hilang, bagian itu diganti demi keperluan pemotretan, sebuah kesalahan fatal menurut para peneliti. Ukiran ini menonjol dengan desain yang sederhana, tanpa gelang tangan atau kilat bahu, dan kini menjadi sorotan dalam koleksi Universitas Leiden.

4. Arca Ciampea dengan Kepala Tambahan

Salah satu arca yang menarik perhatian adalah “Headless Ascetic with Detached Head”. Dalam foto yang diambil, kepala tambahan diletakkan untuk melengkapi arca ini. Diperkirakan berasal dari abad ke-13 hingga ke-16 M, masa ketika Kerajaan Sunda mulai mengalami kemunduran.

5. Arca dengan Mata Menonjol dan Taring

Arca ini menggambarkan seorang pertapa dengan mata melotot, taring, dan kalung ular. Terletak di antara kakinya, terdapat dua tengkorak yang menambah kesan mistis. Hingga akhir abad ke-19, patung ini masih digunakan dalam ritual lokal yang sarat mitos.

Kesimpulan

Arca-arca kuno dari Ciampea adalah saksi bisu sejarah yang menyimpan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Apakah mereka bagian dari kejayaan Tarumanagara atau Sunda Pajajaran? Mungkin, jawabannya ada di antara bebatuan kapur Pasir Sinala, menunggu untuk ditemukan.

#SejarahCiampea #MisteriArcaKuno  #PeninggalanBogor #WarisanNusantara #JejakKerajaanSunda




“Penemuan Arca Kuno Bergaya Siwaisme di Ujung Kulon, 

Jejak Budaya di Nusantara”

Sebuah penemuan bersejarah kembali mencuat dari Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Arkeolog menemukan sejumlah arca kuno yang terdiri atas dua arca kepala, lima arca pion, dan sebuah batu lumpang. Penemuan ini diduga berasal dari abad ke-7 Masehi dan memiliki gaya khas Siwaisme, menandai pengaruh budaya India yang mulai masuk ke Nusantara pada masa awal.

“Temuan ini menjadi bukti adanya pengaruh budaya India di tanah Jawa sejak masa awal. Hal ini sangat penting untuk memahami perkembangan peradaban di kawasan Nusantara,” ungkap Agus Aris Munandar, Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia.

Proses penggalian di lokasi tersebut masih berlangsung, di tengah harapan akan munculnya temuan-temuan lain yang bisa memperkaya sejarah interaksi budaya kuno di wilayah ini. Jejak budaya Siwaisme di arca-arca ini memberikan gambaran penting tentang peradaban Jawa purba dan pengaruh luar yang membentuknya.

(Sumber: Tempo, Kompas, Radar Banten)

#SejarahNusantara #PenemuanArkeologi #cagarbudayaindonesia #SiwaismeKuno #UjungKulonHeritage



Palindo atau Watu Palindo di Lembah Bada. Patung setinggi 4,5 meter ini disebut sebagai representasi dari penduduk mitologis pertama dari desa Sepe yang bernama Tosaloge.



Situs Megalitik Batu Gajah, ada sosok yg sedang naik gajah dg punggungnya menyandang pedang. 


Rabu, 04 September 2024

Sejarah Kebangkitan Keris Kamardikan

 Sejarah Kebangkitan Keris Kamardikan 

Keris Kamardikan merupakan jenis keris yang muncul pada masa setelah Indonesia merdeka, sering dikaitkan dengan upaya menjaga tradisi dan kebudayaan Jawa dalam konteks modern. Istilah "kamardikan" sendiri berasal dari kata "merdeka," yang berarti kebebasan atau kemerdekaan, sehingga keris ini sering dianggap sebagai simbol kedaulatan budaya Indonesia yang telah merdeka dari penjajahan.

Pada akhir tahun 1970-an, di tengah kebangkitan kembali minat terhadap budaya dan tradisi Jawa, muncul tokoh-tokoh penting dalam dunia perkerisan, termasuk Empu Yosopangroso, seorang empu yang dikenal dalam dunia perkerisan modern. Bersama dengan kedua anaknya, dan didukung oleh seorang kolektor asal Jerman bernama Dietrich Drescher, mereka terlibat dalam proses pembuatan keris yang kemudian dikenal sebagai Keris Kamardikan. Keris Kamardikan pertama ini diciptakan sebagai bagian dari usaha untuk melestarikan dan mengembangkan seni pembuatan keris di era modern.

Empu Jeno, salah satu anak Empu Yosopangroso, kemudian menjadi salah satu empu terkemuka di Indonesia yang turut melanjutkan tradisi pembuatan keris. Keris-keris yang dibuat oleh Empu Jeno dan keluarganya terkenal akan keindahan dan kekuatannya, serta dipandang sebagai bentuk adaptasi tradisi yang relevan dengan zaman setelah Indonesia merdeka.

Dalam konteks ini, Dietrich Drescher berperan sebagai pendukung dan pengagum kebudayaan Jawa, yang melalui kolaborasi dengan Empu Yosopangroso dan anak-anaknya, membantu menciptakan keris yang tidak hanya mempertahankan warisan budaya, tetapi juga mengembangkannya di era modern. Kolaborasi ini juga menunjukkan bagaimana budaya lokal dapat bertemu dan berinteraksi dengan budaya asing dalam cara yang positif dan kreatif.


Panjak mpu yoso dan mpu genyo



Era tahun 70an akhir, Empu Yosopangroso dan kedua anaknya, Dietrich Drescher (orang Jerman) dan empu Jeno , sedang membuat Keris Kamardikan pertama. 1970

Mpu subandi menunjukan tempat saat nempa di besalen mpu yoso.

Mpu Subandi Suponingrat dan Dietrich Drescher memainkan peran penting dalam kebangkitan kembali produksi keris pada akhir abad ke-20, terutama setelah sempat terjadi penurunan minat terhadap keris sebagai simbol budaya dan seni tradisional.

Mpu Subandi Suponingrat adalah seorang empu yang dikenal dengan dedikasinya dalam menjaga tradisi pembuatan keris. Sebagai penerus dari garis panjang pembuat keris, Mpu Subandi memiliki keterampilan yang mumpuni dalam menciptakan keris dengan estetika dan filosofi yang mendalam, yang mencerminkan nilai-nilai spiritual dan budaya Jawa.

Dietrich Drescher, seorang kolektor dan pecinta budaya asal Jerman, tertarik dengan keindahan dan makna filosofis di balik keris. Dengan kecintaannya terhadap seni dan budaya Jawa, Drescher menjadi salah satu tokoh asing yang berperan dalam melestarikan dan mempromosikan keris di kalangan internasional. Ia tidak hanya mengumpulkan keris tetapi juga berusaha memahami dan mendalami tradisi pembuatan keris dari para empu di Jawa.

Kebangkitan produksi keris ini terjadi dalam konteks globalisasi dan modernisasi, di mana banyak tradisi lokal menghadapi tantangan untuk tetap relevan. Mpu Subandi dan Dietrich Drescher bekerja sama untuk memastikan bahwa pembuatan keris tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang dengan cara yang selaras dengan zaman modern. Mereka fokus pada kualitas, keaslian, dan penghormatan terhadap tradisi, sambil juga membuka peluang bagi inovasi dan interpretasi baru dalam pembuatan keris.

Upaya mereka melibatkan berbagai langkah, termasuk:

  1. Peningkatan Kualitas dan Keaslian: Mpu Subandi terus menghasilkan keris-keris berkualitas tinggi yang sesuai dengan standar tradisional, memastikan bahwa setiap keris yang dibuat memiliki nilai artistik dan spiritual yang mendalam.

  2. Edukasi dan Promosi: Dietrich Drescher, dengan jaringan internasionalnya, membantu mempromosikan keris sebagai karya seni yang memiliki nilai budaya dan sejarah yang penting. Ia juga berkontribusi dalam edukasi tentang keris, baik di kalangan kolektor maupun masyarakat umum, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

  3. Kolaborasi dan Inovasi: Melalui kolaborasi ini, mereka juga membuka ruang untuk inovasi dalam pembuatan keris. Meskipun tetap menghormati tradisi, Mpu Subandi dan Drescher memungkinkan interpretasi baru dalam desain dan pembuatan keris yang relevan dengan kebutuhan dan selera modern.

  4. Revitalisasi Pasar Keris: Dengan memperkenalkan keris kepada audiens yang lebih luas dan mendukung empu-empu lainnya untuk terus berkarya, mereka berhasil membangkitkan kembali minat terhadap keris, baik sebagai objek seni maupun sebagai simbol budaya yang hidup.

Kolaborasi antara Mpu Subandi Suponingrat dan Dietrich Drescher menjadi salah satu contoh sukses dari upaya melestarikan dan memodernisasi warisan budaya dalam konteks global yang terus berubah.

Kota Surakarta, atau Solo, merupakan salah satu pusat kebudayaan Jawa yang terkenal dengan tradisi pembuatan kerisnya. Sejak lama, Solo dikenal sebagai tempat tinggal dan berkarya bagi banyak empu (pembuat keris) yang menghasilkan keris-keris berkualitas tinggi. Berikut adalah beberapa empu terkenal dari Surakarta yang telah berkontribusi dalam melestarikan dan mengembangkan seni pembuatan keris:

1. Mpu Jeno Harumbrojo

  • Latar Belakang: Mpu Jeno merupakan salah satu empu terkenal dari keluarga pembuat keris yang sudah turun-temurun di Surakarta. Dia dikenal karena kemampuannya dalam membuat keris dengan teknik tradisional, dan juga berinovasi dalam desain keris.
  • Karya: Karya-karya Mpu Jeno dikenal memiliki kualitas tinggi, dengan pamor (pola pada bilah keris) yang indah dan penuh makna filosofis. Keris buatannya sangat diminati oleh kolektor dan peminat keris, baik dari dalam maupun luar negeri.

2. Mpu KRT. Subandi Suponingrat

  • Latar Belakang: Mpu Subandi adalah empu lain dari Surakarta yang telah disebutkan sebelumnya. Dia merupakan salah satu empu yang secara aktif menjaga tradisi pembuatan keris sambil berkolaborasi dengan pihak luar untuk memperkenalkan keris ke dunia internasional.
  • Karya: Keris-keris buatan Mpu Subandi dikenal karena kualitas artistiknya yang tinggi dan keaslian tradisionalnya. Dia juga dikenal sebagai sosok yang mendukung pelestarian budaya melalui pendidikan dan promosi keris.

3. Mpu Yosopangroso

  • Latar Belakang: Mpu Yosopangroso adalah salah satu empu dari generasi sebelumnya yang berperan penting dalam menjaga dan melestarikan tradisi pembuatan keris di Surakarta.
  • Karya: Karya-karyanya dikenal karena memiliki makna spiritual dan artistik yang mendalam, serta dihasilkan dengan teknik yang diwariskan turun-temurun.

4. Mpu Daliman ( M.Ng. Daliman Puspobudoyo)




  • Latar Belakang: Mpu Daliman adalah seorang empu keris dari Surakarta yang dikenal karena keterampilannya dalam membuat keris dengan teknik tradisional. Dia sering dianggap sebagai salah satu empu yang berperan penting dalam menjaga kualitas dan keaslian pembuatan keris di masa modern.
  • Karya: Mpu Daliman menghasilkan berbagai jenis keris yang dihargai karena keindahan pamor dan presisi pengerjaannya. Karya-karyanya dikenal sangat tradisional, dengan penekanan pada nilai-nilai spiritual dan estetika yang tinggi.

5. Mpu Yanto (M.Ng. Suyanto Wiryo Curigo)



  • Latar Belakang: Mpu Yanto merupakan salah satu empu yang juga terkenal di Surakarta. Dia dikenal dengan keahliannya dalam menciptakan keris dengan pamor yang rumit dan simbolik.
  • Karya: Karya-karya Mpu Yanto biasanya mencerminkan kedalaman filosofi Jawa, dengan setiap keris memiliki makna tersendiri. Kualitas pengerjaan dan kehalusan pamor pada keris-kerisnya menjadikannya diminati oleh kolektor dan penggemar keris.Besalennya Hingga Sekarang diteruskan Oleh Kedua Putranya Eko dan Andi ( Besalen Empu Suyanto Wiryo Curigo). 
     

6. Mpu Yantono




  • Latar Belakang: Mpu Yantono adalah empu lain dari Surakarta yang juga dikenal luas dalam komunitas perkerisan. Dia sering dianggap sebagai penerus tradisi perkerisan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai dan teknik-teknik pembuatan keris klasik.
  • Karya: Mpu Yantono menghasilkan keris-keris dengan desain yang klasik, sering kali dengan inovasi pada pamor dan bentuk bilah keris. Karyanya dihargai karena keseimbangan antara kekuatan, keindahan, dan makna spiritual.

7. Mpu Kamdi




  • Latar Belakang: Mpu Kamdi adalah empu yang terkenal karena inovasinya dalam pembuatan keris, termasuk menciptakan keris dengan desain yang unik dan simbolis. Dia dikenal luas dalam dunia perkerisan karena karyanya yang disebut "Keris Gelombang Cinta".
  • Karya - Keris Gelombang Cinta: Keris Gelombang Cinta yang diciptakan oleh Mpu Kamdi adalah salah satu karyanya yang paling terkenal. Keris ini memiliki bilah dengan gelombang (luk) yang unik dan simbolis, melambangkan kasih sayang, kebijaksanaan, dan keseimbangan dalam hidup. Keris ini dihargai tidak hanya sebagai senjata tradisional tetapi juga sebagai karya seni dengan makna filosofis yang dalam.

8. Mpu Fauzan Ndalem Harjonagoro (Go Tik Swan)




  • Latar Belakang: Go Tik Swan, yang kemudian dikenal sebagai Mpu Fauzan Ndalem Harjonagoro, adalah seorang budayawan, seniman, dan empu keris yang sangat dihormati, dia berhasil menyatukan berbagai elemen budaya Jawa dalam karyanya, dan diangkat menjadi abdi dalem Keraton Surakarta dengan gelar Ndalem Harjonagoro.
  • Karya: Karya-karya Mpu Fauzan terkenal karena menggabungkan keindahan seni dan nilai-nilai spiritual Jawa dalam setiap kerisnya. Dia sering membuat keris yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna filosofis. Karyanya sangat dihargai oleh kolektor dan peminat budaya, baik di dalam negeri maupun internasional. Sebagai seorang empu, Mpu Fauzan memadukan teknik tradisional dengan estetika yang tinggi, sering kali menghasilkan keris yang mencerminkan identitas budaya Jawa yang kuat.
 Besalen yang berada di komplek tempat tinggal sang panembahan di kawasan Kratonan, Solo, Jawa Tengah, itu terakhir digunakan untuk membuat keris tahun 1992. Mpu Pauzan sendiri dalam 10 tahun terakhir sempat berhenti membuat keris karena sakit.

Sejarah Besalen ASKI (sekarang menjadi ISI Surakarta)

Dietrich Drescher, pelaut Jerman yang menggemari keris Jawa. Saat datang ke Museum Radyapustaka, ia mengungkapkan kepada Hardjonagoro bahwa ia telah menemukan sisa-sisa besalen atau tempat membuat keris di Jitar Yogyakarta yang legendaris itu. Bersama Dietrich Drescher, Hardjonagoro lalu mendatangi Yasa dan Jeno, keturunan mpu keris di Jitar Yogyakarta. Mereka meminta dua keturunan mpu tersebut untuk membangkitkan lagi besalen yang ada dan membuat keris seperti yang ditunjukkan dalam manuskrip Mpu Djojosoekatgo. Setelah berhasil membangkitkan kembali besalen keris di Yogyakarta, Hardjonagoro bersama anggota BTA ( Bawa Rasa Tosan Aji) lainnya bertekad untuk membangkitkan besalen yang ada di Solo.
Berjalannya waktu, besalen yang berhasil dibangkitkan maupun dibuat adalah Besalen Suparman, Besalen Fauzan, Besalen ASKI (sekarang menjadi ISI Surakarta) di Sasana Mulyo Komples Kraton Surakarta. Dari besalen-besalen itu, dihasilkan keris-keris generasi Mpu Muda baru. Tahun 1980 an.
Koleksi keris Go Tik SwanPada 1988, Go Tik Swan juga membangun besalen di kediamannya yang diberi nama Besalen Surolayan, karena sebelumnya rumah itu diberi nama Ndalem Surolayan. Besalen itu dipasrahkan kepada Hardjosoewarno, pembantu kepercayaan Hardjonagoro sekaligus calon pewaris.


9  . Mpu Kiet Sing 


Mpu Kiet Sing adalah salah satu empu keris yang menonjol di dunia perkerisan, terutama karena ia merupakan murid dari almarhum Mpu Kamdi. Sebagai murid dari seorang empu yang dihormati, Mpu Kiet Sing mewarisi teknik, pengetahuan, dan filosofi yang mendalam dalam pembuatan keris.
Latar Belakang Mpu Kiet Sing
Mpu Kiet Sing memulai perjalanan sebagai empu di bawah bimbingan Mpu Kamdi, yang terkenal dengan inovasi dan kualitas tinggi dalam pembuatan keris, seperti karya terkenal "Keris Gelombang Cinta." Di bawah arahan Mpu Kamdi, Kiet Sing belajar dan menguasai berbagai aspek seni pembuatan keris, termasuk teknik tempa, pembuatan pamor, dan penanaman nilai-nilai spiritual dalam setiap karya yang dihasilkan.

10. KRT. Bagyo Sonto Djojowinoto ( Cucu dari Sontokusomo I )

Mpu Bagyo, yang dikenal juga sebagai Pak Yok Po, adalah salah satu empu terkemuka dari Surakarta dan salah satu pendiri Besalen Sasana Mulyo di Kraton Surakarta. Besalen ini menjadi salah satu pusat penting dalam dunia perkerisan, tempat di mana banyak keris berkualitas tinggi dihasilkan.


Mpu Bagyo di Besalen Sasana Mulyo

Sebagai salah satu pelopor berdirinya Besalen Sasana Mulyo pada tahun 1980-an, Mpu Bagyo bersama rekan-rekannya memainkan peran penting dalam kebangkitan Tosan Aji, yaitu seni pembuatan senjata tradisional, termasuk keris. Besalen ini menjadi tempat berkumpulnya para empu dan pecinta keris untuk melestarikan dan mengembangkan seni pembuatan keris yang sarat akan nilai budaya dan spiritual.

Salah satu karya paling terkenal dari Mpu Bagyo adalah keris Dapur Naga Sapta Kelengan. Keris ini dikenal karena desainnya yang unik dan penuh simbolisme. Dapur (desain) Naga Sapta merujuk pada bentuk keris yang menampilkan motif naga, sebuah simbol kekuatan, perlindungan, dan kebijaksanaan dalam budaya Jawa. Keris ini disebut "kelengan," yang berarti tidak memiliki pamor atau pola pada bilahnya, menjadikannya terlihat polos namun penuh dengan makna yang dalam. Meskipun tanpa pamor, keris kelengan sering kali dianggap memiliki kekuatan spiritual yang kuat. Dapur Naga Sapta Kelengan adalah contoh sempurna bagaimana keris dapat menjadi simbol kekuatan spiritual dan estetika yang sederhana namun berwibawa. Melalui karya-karyanya, termasuk Dapur Naga Sapta Kelengan, Mpu Bagyo menunjukkan bagaimana seni pembuatan keris dapat terus relevan dan dihargai di zaman modern. Dedikasinya terhadap Tosan Aji dan kontribusinya dalam mendirikan Besalen Sasana Mulyo telah memberikan dampak besar bagi dunia perkerisan, tidak hanya di Surakarta tetapi juga di seluruh Indonesia. Warisan Mpu Bagyo terus hidup melalui karya-karyanya dan generasi empu yang terinspirasi oleh dedikasinya terhadap seni dan budaya. Besalen Sasana Mulyo tetap menjadi salah satu pusat penting bagi pelestarian dan pengembangan seni pembuatan keris di Indonesia.

11. Mpu Joko


  • Latar Belakang: Mpu Joko Suryono merupakan salah satu empu muda yang muncul di Surakarta, merupakan adik dari Mpu Bagyo dan dikenal karena dedikasinya dalam melestarikan seni pembuatan keris dan pisau. Dia belajar dari empu-empu terdahulunya dan menggabungkan teknik tradisional dengan pendekatan yang lebih modern.
  • Karya: Keris-keris buatan Mpu Joko Suroto dikenal dengan kehalusan pengerjaan dan kekuatan spiritual yang terkandung di dalamnya. Dia juga dikenal sering mengadakan pelatihan dan lokakarya untuk mendidik generasi muda tentang pembuatan keris.



Penulis. :
KRT. Cahya Setyonagoro. 
NB. Monggo jika ada koreksi atau penambahan Mengenai Mpu di Kota Surakarta yang belum masuk dalam Penulisan saya. 
Tujuan dituliskannya hal ini agar sejarah tidak hilang di kemudian Hari. 


Selasa, 06 Agustus 2024

KERIS SETAN KOBER

 


KERIS SETAN KOBER (Perang Niskala Tanah Jawa)
-------------------------------------------------------------

Pada akhir masa Kerajaan Majapahit hingga Kesultanan Demak, tanah Jawa mempunyai dua empu penempa keris yang kesaktiannya melampaui empu-empu lainnya. Mereka saudara seperguruan: Empu Rahtawu dan Empu Supa Mandragi. Jika Empu Supa Mandragi telah memeluk Islam semenjak menikah dengan Dewi Rasawulan, adik Sunan Kalijaga, Empu Rahtawu tetap bertahan dengan Siwa Buddha. Kesaktian mereka mengundang banyak kesatria besar tanah Jawa untuk memesan keris pusaka pada keduanya. Empu Supa Mandragilah yang mencipta Keris Kyai Nagasasra Sabuk Inten. Empu Rahtawulah yang mencipta Keris Kyai Condong Campur bersama 99 muridnya. Keduanya juga sama-sama berumur panjang, sudah menjadi empu termasyhur semenjak zaman Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, hingga zaman penguasa Demak kedua, Sultan Yunus.

“Sagopa! Siapkan semua sesaji! Aku akan bersamadi! Siapa pun tidak boleh membatalkan samadiku!” titah Empu Rahtawu pada hari itu.

Hari itu Selasa Pahing. Sagopa ingat betul Empu Rahtawu memulai samadinya terhitung tujuh hari sejak tersiar kabar jatuhnya Ndaru Kalabendu, batu meteor yang meledak saat menerobos udara bumi. Batu itu kemudian berubah menjadi logam yang paling dicari para empu pembuat keris-keris sakti.

Saat samadi Empu Rahtawu baru berjalan sehari, datang seorang pangeran dari Kesultanan Demak untuk menemui sang empu. Dia adalah Raden Kikin, putra kedua Sultan Fattah. Raden Kikin ingin dijodohkan oleh Empu Rahtawu dengan keris ampuh sebagai piandel dan pemangku hak warisnya atas takhta Kesultanan Demak. Sebagai adik pertama Sultan Yunus, dia berhak mewarisi takhta Demak bila sewaktu-waktu Sultan Yunus tewas dalam pertempuran melawan Portugis di Semenanjung Malaka yang sedang dipersiapkan besar-besaran.

Ingatan Sagopa terputus lagi saat terbit fajar. Apa yang dia khawatirkan terjadi. Di ufuk timur, matahari mulai menyorotkan sinarnya. Empu Rahtawu belum juga muncul dari dalam danau. Sagopa bingung. Dia termangu mengetahui semua saudara seperguruannya sudah terjun menyelam. Hanya dia yang masih berdiri di anjungan. Tak pelak, akhirnya dia pun menyusul terjun ke danau.

Hari semakin terang. Matahari naik setinggi lembing, namun kabut masih menyelimuti danau dan hutan sekitarnya. Suasana sangat sepi. Sepi yang ganjil. Tak terdengar kicau burung atau suara-suara binatang lain. Ke mana perginya semua penghuni hutan? Hanya terdengar derit dahan dan ranting serta daun-daun yang bergesek saat angin bertiup. Tampaknya semua penghuni hutan telah pergi beberapa hari yang lalu. Sesuatu telah terjadi. Naluri mereka yang tajam menengarai adanya bahaya yang tidak bisa dihindari kecuali dengan pergi jauh-jauh dari danau itu.

Teka-teki itu mulai terjawab saat kabut hilang perlahan. Tampak pemandangan yang mengagetkan. Ribuan bangkai ikan mengapung-apung di pinggir danau. Bau busuk yang menyengat tercium ketika angin bertiup. Di pinggir danau terlihat beberapa pohon tumbang. Tebing di pinggir danau runtuh dan tertutup lumpur. Terlihat bekas-bekas sesuatu yang meluncur sangat cepat, lalu menumbuk danau hingga menimbulkan ledakan yang kuat.

Perahu yang berada di tengah danau bergoyang tertiup angin, tapi tetap tidak bisa melaju ke mana-mana karena ada jangkar yang menahannya. Sudah cukup lama Sagopa dan lima saudara seperguruannya menyelam ke dasar danau untuk mencari guru mereka, namun sampai kini belum muncul juga. Sesaat kemudian, muncul seseorang di sebelah kanan perahu, berjarak kira-kira lima puluh tombak. Apakah dia Sagopa atau salah satu dari lima saudara seperguruannya? Bukan. Dia adalah Empu Rahtawu sendiri. Dia muncul ke permukaan air seperti didorong kekuatan yang sangat besar. Dia membawa segumpal logam hitam sebesar kura-kura dengan satu tangan. Logam hitam itu diletakkan di telapak tangannya. Menilik bentuknya, logam itu pasti berat, namun terlihat ringan di telapak tangan empu berwajah wingit itu.

Beberapa hela napas kemudian, pemandangan yang ajaib terjadi! Empu Rahtawu berdiri tegak di atas permukaan air. Tidak tenggelam. Air di bawah telapak kakinya seperti mengeras. Sejurus kemudian, dia menoleh ke arah perahu yang semalam dia naiki bersama enam muridnya. Raut wajahnya tidak mengesankan sesuatu. Bahkan cenderung dingin. Tak lama kemudian, terjadi keajaiban lagi. Kakinya melangkah di atas permukaan air menuju tepi danau!

Tak lama berselang, Sagopa bersama lima saudara seperguruannya muncul satu demi satu ke permukaan air. Tubuh mereka mengambang dan membengkak seperti ribuan ikan yang mati membusuk. Kulit mereka menghitam, pertanda terkena racun yang mematikan!
--------------------------------------------


Pengarang: S. Trisasongko Hutomo
SC | 14 x 21 cm | 445 hlm.
ISBN: 978-602-6799-08-1


Menurut Mpu Bandi ( KRT. Subandi Suponingrat ) 
Keluar dari konteks filologi mistis 
Setan Kober merupakan kurang ketepatan dari pengucapan kalimat .
dari literasi yang di dapat sebenarnya pembuat ( Mpu Supo Mandrangi). 

memberikan nama Sih Tan Kober ( Kasih sayang yang belum terwujud) 
Sih : asih./ kasih sayang / tan asih./ pemberian rasa cinta 
tan : belum 
kober : waktu./ kesempatan./ peluang 
bisa juga diartikan Sih Tan Kober ; belum sempat ada waktu untuk memberikan kasih sayang. 
belum sempat mengutarakan rasa cinta. 

Sebenernya Mpu Supo Mandrangi memberikan arti nama Keris Asih Tan Kober karena memberikan pesan bahwa belum sempat memberikan kasih sayang entah pada keluarga ataupun negara. mengingat pada saat itu era zaman Kerajaan yang sering didera peperangan perebutan wilayah. era dimana Penguasaan Portugis yang bergejolak dengan Kerajaan Demak. sekitar tahun 1500 an. dengan catatan Babad Tanah Jawa ; 
Pada 1521, Pati Unus, suami dari anak pertama Raden Patah melakukan penyerangan ke Portugis di Malaka. Namun, ia gugur dalam perang tersebut.



Senin, 27 Mei 2024

 Gaman Cirebon

JAMBANGAN DAN TRUSMIAN

 Berbagai bentuk keris pada era kerajaan Cirebon, menurut Pangeran Suryanatha Harya salah satu sesepuh Cirebon, ada tertulis dalam kitab pakem "Gaman Cerbon". Sedangkan hulu atau garan keris menurut bahasa lokalnya, ada tertulis dalam kitab "Peklamben Gaman".

Pada masa Cerbon dipimpin Kanjeng Sinuhun Sunan Jati Purba (Gunung Jati, berkuasa 1471-1478), filosofi ajaran toriqoh dimasukkan dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari di Cerbon. Tidak hanya dalam perilaku, akan tetapi juga  dalam hal berbusana, seni bangunan, senjata, seni rupa dan sebagainya.

Sunan Gunungjati tidak menghilangkan kebudayaan yang ada, akan tetapi "mengolaborasikan" dengan budaya lokal. Hanya saja, dalam hal "Pakem Gaman" ada yang diubah. Tentunya dari tradisi sebelumnya, yang banyak terpengaruh oleh tradisi Pasundan.

Lebih tepatnya lagi, bentuknya “diperindah”. Bentuk garan bermotif buta (raksasa), diperindah bentuk dan posisinya. Posisi kepala, misalnya, diseragamkan "nengleng" (agak meliuk) ke kanan.

Pada masa pemerintahan Sultan Matangaji (1773-1786), misalnya, politik Belanda menguasai segalanya. Sampai Sultan Matangaji sendiri menjadi korban politik, akhirnya malah tersingkir. Menyingkir ke pinggiran Cirebon dan mengajar agama. Sementarta budaya Barat pun mulai menguasai, atau setidaknya banyak mempengaruhi Cirebon.



Di atas ini, adalah salah satu contoh warangka dan hulu yang khas Cerbonan, yang diciptakan setelah Cirebon di bawah era Sunan Gunungjati, era kerajaan Islam. Srangka Jambangan, dan Hulu Trusmian namun versi primitif dan alami. Filosofi trusmi adalah tunas "terus bersemi", awal tumbuh dalam kehidupan di tlatah Cirebon.


KESULTANAN CIREBON 

Kesultanan Cirebon rentang hidupnya cukup panjang (1430–1677) jauh sebelum kerajaan Mataram (1586-1755) berdiri di Jawa Tengah. Setelah (1677), di era kolonial Cirebon dibagi menjadi Kanoman dan Kasepuhan. Bahkan kemudian menyusul Keraton Kacirebonan. Kesultanan Cirebon erat kaitannya dengan sosok Sunan Gunung Jati yang dikenal sebagai salah satu dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Lampung dan Jawa bagian barat.

Kesultanan Cirebon mampu bertahan selama tiga (3) abad, sejak diakuinya Walangsungsang sebagai Sri Mangana (Penguasa) Cirebon pada 1430 hingga terjadinya kisruh kekuasaan akibat kosongnya posisi Sultan Cirebon sepeninggal Sultan Abdul Karim pada 1677.

Berdasarkan naskah Mertasinga, Sultan Abdul Karim telah meninggal di Mataram pada tahun 1585 saka jawa atau sekitar tahun 1662 M, 12 tahun setelah kepergiannya ke Mataram. Sultan Abdul Karim diambil menantu Amangkurat I dan tak pernah kembali setelah dinikahkan di Mataram. Tipu daya Mataram masa Amangkurat I serta dekatnya sebagian keluarga kesultanan Cirebon dengan Belanda menyebabkan perlahan kekuasaan Cirebon akhirnya runtuh, terlebih perkara pribawa (derajat paling tinggi) diantara keluarga besar kesultanan Cirebon semakin mempercepat keruntuhan kesultanan Cirebon pada akhir abad ke 17.

Munculnya Kesultanan Banten tidak lepas dari Cirebon. Pada 1552 Sunan Gunung Jati mengangkat anaknya dari Nyi Kawung Anten (putri Surosowan penguasa Banten Pesisir) yaitu Maulana Hasanuddin (sebelumnya menjabat sebagai Depati (Gubernur) Banten untuk kesultanan Cirebon sebagai Sultan pertama Kesultanan Banten.

Rabu, 21 Februari 2024

KHADGA #2

 Khadga dan Keris Puthut Sa-Ajian / Puthut Sajen
(Menelusuri Prototipe Awal Keris)
KHADGA

Sering juga disebut Asi (bhs. Rigveda) / Khadga (bhs. Sanskerta klasik) atau Kandha (bhs. Hindi) adalah nama senjata yang pertamakali ada sebelum senjata2 lainya dibuat menurut Kepercayaan Ciwa/Hindhu. "Diciptakan" oleh Dewa Brahma (sebutan untuk manifestasi Daya KuasaNYA dlm penciptaan), berujud pedang pendek bermata tajam dan halus, sering disebut juga sebagai belati persembahan. Asi/Khadga/Kandha dan senjata2 para dewa disamping mempunyai fungsi teknomik (Teknofak) juga berfungsi sosioteknik (Sosiofak)dan ideoteknik (Ideofak), sebagai atribut seorang Dewa juga dari bentuknya mempunyai makna-makna yang simbolis filosofis dan mempunyai 'daya kekuatan' yang dahsyat. Dalam kepercayaan Çiwa-Budha Khadga dikenal sebagai 'pedang pemutus rantai karma dan pedang kebijaksanaan'. Bentuknya bisa terlihat pada gambar, bilah ada yang agak panjang dan pendek, tidak ber-lekuk (Luk),  pada bagian pegangan tangan ada "pelindung tangan" atau sering disebut "Quillon". Bilah membentuk sudut siku terhadap Quillon sehingga tidak ada sudut kemiringan bilah/Condhongleleh.

Khadga yang kita lihat pada Relief di Candi atau Arca Dewa-Dewa termasuk dalam Seni Klasik yang berasal dari India,  masuknya Kepercayaan Ciwa/Hindu ke Nusantara mengakibatkan Khadga juga terbawa dan juga dibuat oleh para Mpu Pande di Nusantara, hal ini dibuktikan dengan adanya artefak-artefak yang ditemukan. Di Agama Ciwa-Budha dimana Khadga bermakna  sebagai "Pedang Kebijaksanaan" dari sisi fungsi yang bersifat Ideoteknik/Ideofak diadobsi menjadi apa yang disebut "Pedangpora" dlm kemiliteran/kepolisian kita, bentuk dan secara fungsinya lebih diutamakan sebagai fungsi Sosioteknik sebagai pelengkap seragam dan upacara kemiliteran dan fungsi Ideotekniknya sebagai "Pedang Kebijaksanaan", sehingga Pedangpora sdh bukan berfungsi sebagai "senjata utk berperang" (teknomik/teknofak).


KERIS  SAJEN / KERIS Sa-AJIAN

Keris Sajen / Keris Sa-Ajian termasuk kedalam Seni Primitif, yang artinya dibuat sangat sederhana dan belum mengikuti aturan kerajaan. Bilah dibuat secara "iras" yang artinya bilah dan bagian pegangannya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah. Tidak memakai apa yang disebut "pelindung tangan / Quillon", Bilahnya tidak satu garis lurus dengan bagian hulu/pegangan, sehingga bilah mempunyai "sudut kemiringan/Condhongleleh" terhadap pegangannya. Berdasarkan pengukuran dengan skala derajad  menunjukkan pada sudut-sudut berangka genap yaitu 86*, 84*, 80*. Bilah cenderung "pipih/tipis" dengan panjang bilah rata-rata sejengkal. Bentuk awal bilahnya "leres" (tidak Luk/tidak berlekuk-lekuk) dan belum ada "garis yang menunjukkan Bilah dan Gonja". Penyusunan material pada bilah awalnya belum memakai apa yg disebut "Slorok" yang terbuat dari besi baja.

Ciri khas disamping  dibuat secara "iras" , pada bagian "hulu/pegangan" dibentuk sosok manusia yang masih diwujudkan dalam bentuk gaya "tribal arts" penampilannya seperti sosok manusia pada Arca2 Megalitik yg ada di Nusantara.

Kata Sajen atau Sa-Ajian berasal dari kata Sa dan Ajian:

– Sa bermakna Tunggal

– Aji bermakna Ajaran

– Sa bermakna Seuneu, bara atau Api (Aura-energi).

Bermakna Sa Ajian atau ajaran yang Tunggal atau menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa yang harus dilakukan oleh manusia sebagai CiptaanNYA. Dalam kehidupan keseharian diwujudkan dalam tindakan untuk selalu berusaha menyatukan keinginan (kahayang-kahyang) dengan keinginan alam atau beserta alam (menyatu dengan alam), sering juga disebut "kemanunggalan" antara keinginan  Manusia-Alam dan Sang Maha Pencipta yaitu lebih untuk kepentingan Ideoteknik/Ideofak.

Dalam perjalanannya Keris Sajen yang semula berupa Seni Primitif oleh generasi selanjutnya diwujudkan juga menjadi Seni Klasik seiring dengan sudah adanya Kerajaan2 di Nusantara dan mempunyai "aturan-aturan" yang sudah ditetapkan oleh Kerajaan dengan Kepercayaan yang dianutnya yaitu Kepercayaan Ciwa/Hindhu dengan memasukkan Konsep Lingga-Yoni sehingga menjadi bentuk seperti Keris saat ini. 

Keris sebagai Sebuah Karyaseni Tradisi mempunyai karakteristik  bahwa "generasi selanjutnya sering membawakan gaya-gaya sebelumnya" sehingga menjadikan Keris Sa-Ajian tetap dibuat oleh generasi-generasi berikutnya dengan mengikuti kaidah-kaidah penyusunan materialnya maupun juga bentuknya. Sudah memakai Slorok, Saton Pamor dan ber-Luk.


Kalau bentuk bilah keris saat ini kita runut kembali dengan menyatukan bagian-bagian bilah yang saat ini terpisah maka pada akhirnya kita akan menemukan bentuk awal yaitu seperti halnya bentuk Keris Sa-Ajian / Keris Sajen/ Keris Puthut Sajen yang dibuat secara iras, sehingga ini menjadikan bukti bahwa Prototipe Awal Keris adalah Keris Sajen/Keris Sa-Ajian/Keris Puthut Sajen, jadi bukanlah Khadga seperti yang dipahami saat ini.

Keris yang seperti kita lihat saat ini adalah suatu bentuk Alkulturasi Budaya dan Sinkretisme dalam hal pemaknaannya yang tidak bertentangan dengan pemaknaan awal sebagai sebuah "Kemanunggalan"

Semoga dapat mencerahkan dan menambah pengetahuan.

Senin, 12 Februari 2024

Serat Mintaraga



Serat Mintaraga 

Kapetik saking Serat Mintaraga - yasan  Sampeyan Dalem Sinuwun PB III 

nedak saking serat kina Arjunawiwaha yasan ingkang minulya Mpu Kano.


Mangkana Sang Parta matur aris | dhuh pukulun sêmbahing manuswa | pada bathara yêktine | katur jêng sang sinuhun | apan rêke pukulun ugi | sêmbahipun pun Parta | ênggène dumunung | ing mangke ing têmbeneka | sêmbahipun pun Parta datan lyan ugi | kang mumpuni ing sêmbah ||

apan sêmbah manuswa puniki | kadi ta angganing tahên ika | ingkang umijil agnine | kang pama tahênipun | inggih pada bathara ugi | kang minăngka agninya | têmah manuswèku | pan tan kawasa anêmbah | myang amuji nênggih kawula puniki | lamun datan anaa ||

sihing pada bathara sayêkti | pan jatining manuswa punika | kadi menyak upamine | apan menyak puniku | mêdal saking wong mutêr nênggih | dening ingkang minăngka | wong mutêr satuhu | sayêkti pada bathara | kang minăngka menyakipun kang upami | manuswaning bathara ||

Sang Arjuna angastuti malih | byapi-byapaka têgêse ika | byapi wisesa têgêse | byapaka têgêsêsipun | kang misesa puniku nênggih | inggih pada bathara | karan mangkanèku | dening ta pada bathara | sarining cipta amisesa sayêkti | inggih pada bathara ||

datan aganal kalamun pinrih | pada bathara tan moring agal | miwah ing ala ayune | karane mangkanèku | dening pada bathara ugi | langgêng ingkang akarya | jagade puniku | apan patine uripnya | lan langgênge orane manuswa iki | apan anèng ing karsa ||

karsaning pada bathara nênggih | apan manuswa puniki uga | sakane miwah ulihe | mangke ing têmbenipun | saking pada bathara ugi | pinangkane duk ora | manuswa puniku | ngastuti malih Sang Parta | dhuh pukulun pama manuswa puniki | yèn arsa ngawasêna ||

ing pada bathara ingkang yêkti | upama kadi angganing wulan | mimba madyaning wiyate | wontên gatha têtêlu | wadhah tiga punika ugi | kang satunggal si toya | awêning kalangkung | wadhah kang satunggalira | isi toya alêtuh toyanirèki | wadhah kaping tiganya ||

kang tanpa isi toya satunggil | sami kadulu dhatêng kang wulan | yêkti wayangan wulane | yèn tumiba puniku | ing wêwadhah ingkang aisi | toya wêning punika | nyata yèn dinulu | têtela rupaning wulan | kang tumiba ing wêwadhah kang aisi | toya lêtuh punika ||

wêwayanganing wulan kaèksi | ingkang tumiba anèng wêwadhah | ingkang alêtuh toyane | sami katingalipun | wêwayangan wulan anênggih | nanging datan têtela | sabab toya lêtuh | wondene ingkang tumiba | ing wêwadhah ingkang tanpa isi warih | tan wontên katingalan ||

saking botên wontênipun nênggih | wêwayanganing wulan punika | dening wêwadhah suwunge | tanpa isi toyèku | măngka ing dumadi puniki | ingkang minăngka kanya | tahaning suksmèku | ingkang tumiba wêwadhah | toya wêning têgêse ingkang sujanmi | rahajêng manahira ||

kang têtêp puji bêktinirèki | ing bathara dening kang tumiba | wêwadhah lêtuh toyane | manuswa kang puniku | ingkang rago manahirèki | kang arêp ora-ora | mring pênêd puniku | wondene ingkang tumiba | ing wêwadhah ingkang tanpa isi warih | manuswa kang mangkana ||

ingkang mungkur batharanirèki | kang ngarêpakên marêgi pangan | kang aja kurang turune | ywa towong sahwatipun | nandhang nganggo ywa kurang malih | wong kang mangkono uga | sasat sato tuhu | sato mani namanira | têgêse sato mani puniku ugi | sato wênang pinangan ||

karantêne manuswa puniki | botên kadi sami angulaha | maring ing yoga bratane | ya ta malih amuwus | Sang Arjuna malih ngastuti | pun Parta dhatêng pada | bathara satuhu | katêmu dening manuswa | yèn pada bathara kang nêmokkên ugi | punika sayêktinya ||

kang wênang lawan kaidhêpnèki | pada bathara dening manuswa | yèn bathara sayêktine | kang mênangakên tuhu | lan kaidhêp têgêse nênggih | pukulun pan tan ana | pangawasanipun | ingkang kawula punika | tan lyan saking jêng pada bathara ugi | pinangkane punika ||


1.Manusia jernih batinnya sinebut Manusia Dewa kadya dewa (bathara) ngejawantah. Bak bayangan bulan jatuh di wadah berisi air yang jernih.

2. Manusia kotor batinnya sifat kadewatan kabhataran (sifat luhurnya) hanya sedikit - bak bayangan bulan yg jatuh d wadah berisi air yg kotor 

3. Manusia kadya kewan - manusia binatang tanpa sifat kabhataraan atau kedewataan - bak bayangan bulan jatuh d wadah tanpa air.

KRT. Cahya Surya Sonto Djojowinoto